Featured
Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...
- Get link
- X
- Other Apps
The epic journey
Hari kedua belajar nyetir dari jam 6 pagi sampai jam 3 sore, sudah lumayan. Saya bisa melewati jalan kampung yang sempiiiitt, juga jalan Prumpung - Parung yang rusak parah, berbatu, lubang dalam di sana sini dengan kubangan lumpur, dan truk-truk di depan, belakang dan sebelah kanan saya.
Saya tegang, tapi untungnya teman saya sang instruktur, tetap tenang dan santai. Benar-benar membantu saya menguasai rasa panik dan tegang itu.
Hari ini, roda depan mobil berhasil masuk ke dalam got, kemudian menabrak pot bunga besar di depan warung pinggir jalan, dan terakhir, begitu akan masuk gang depan rumah saya, berhasil menabrak pagar rumah tetangga.
Sungguh bagi saya ini perjalanan yang menegangkan dan memacu adrenalin. And I call it an epic journey.
Popular Posts
Buku dan Anak Usia 1 Tahun: Tentang Kata, Waktu, dan Kehadiran
- Get link
- X
- Other Apps
Comments