Bertutur tentang Melajang

Menikah memang bukan harga mati. Tapi melajang di usia 40-an juga tidak gampang, sering kali berurai air mata. Paling tidak, dalam kasus saya seperti itu. Tutur saya tentang melajang di sini, hanya berdasarkan perspektif dan pengalaman pribadi, tidak mewakili lajang-lajang lainnya di usia seperti saya. 

Saya sadar, saya tidak sendirian berada di posisi ini. Saya punya beberapa teman yang sama-sama masih melajang, yang beberapa tahun lebih tua atau muda dari saya. Saya sendiri tidak pernah merencanakan untuk terlambat menikah, untuk tetap mempertahankan ke-single fighter-an saya sedemikian lama. Walaupun memang saya juga tidak berencana menikah di usia muda, awal 20-an misalnya. 

Suatu malam, di teras kantor, istri bos saya bilang gini, "Sari, kalau kamu pikir menikah dan berumah tangga itu seperti surga, kamu salah besar. Menikah itu menyatukan dua kepala yang berbeda. Kalau kita tidak banyak bersabar dan merendahkan ego kita, menikah rasanya akan seperti di neraka. Saya sudah mengalami itu. Banyak ujian rumah tangga yang harus dihadapi, dan satu-satunya jalan untuk menjawab soal-soal ujian itu adalah kembali ke petunjuk Allah". Betul, saya setuju.  

Kalau menikah dan berumah tangga memang sebegitu beratnya, mengapa kemudian hidup sendirian pun tidak gampang? Mengapa ada sesuatu yang kosong di dalam sini, di dada saya? Seperti ada lubang besar yang menganga. Saya berusaha mencari distraksi, dalam bentuk yang religius maupun non-religius. Berdialog langsung dengan Tuhan, membenamkan diri dalam pekerjaan, atau sekedar begadang semalamam sampai adzan subuh memanggil pulang. Untuk sesaat saya lupa pada lubang itu, tapi ia tidak hilang, hanya tersamarkan dan menunggu waktu yang tepat untuk kembali menarik saya ke dalam pusarannya yang pekat. 

Saya ingin bicara sejujur-jujurnya. Sebagai lajang, banyak kebutuhan saya tidak terpenuhi. Kebutuhan untuk memperhatikan dan diperhatikan, kebutuhan untuk dicintai dan mencintai dan menerjemahkan cinta itu ke dalam wujud yang nyata, kebutuhan untuk didengar dan mendengarkan. Belum lagi jam biologis saya yang terus berdetak. Tik tok tik tok tik tok. What can I say? I'm just a normal human being. 

Saya tidak terlalu menitikberatkan pada kebutuhan ekonomi. Karena sejauh ini, saya secara sederhana mampu memenuhi kebutuhan itu. Walaupun saya juga ingin ada yang membayarkan cicilan rumah saya, keranjang belanjaan saya, keperluan bulanan saya. Atau sekedar membelikan nasi goreng cak madura (masih muda, orangnya ganteng) yang mangkal di depan masjid dekat  tempat kos saya. 

Hidup melajang juga akan semakin berat, ketika ada orang yang datang dan pergi begitu saja, yang menganggap bermain dengan perasaan orang lain itu sah-sah saja. Pengalaman terakhir saya dengan Ayah Dimas (inget, ini cuma nama samaran) merupakan tamparan hebat di muka saya. Melukai harga diri saya dan menempatkan kepercayaan diri saya di titik nadir. Kemudian mengantarkan saya pada titik "I'm done with men" (paling tidak untuk saat ini). 

Saya tahu, orang bijak dan beriman akan menasihati, sabar, ikhlas, bersyukur, semua sudah diatur Allah, lebih dekat lagi kepada Allah. Sayapun yakin sepenuhnya, semua sudah diatur yang Di atas, tidak satupun sesuatu terjadi yang luput dari ketentuan-Nya. Tapi tetap saja, ada saat di mana saya betul-betul merindukan pasangan hidup dan keyakinan itu hanya berupa awan gelap yang bergantung di atas kepala saya. 

Itulah sejujur-jujurnya yang saya rasakan tentang kelajangan saya sejauh ini.

Comments

Popular Posts