Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

Saya Keledai

Kok bisa jadi keledai? Ya, saya merasa demikian adanya. Untuk urusan cinta, saya seperti keledai. Hal itu saya akui dengan sepenuh hati, sejujur-jujurnya, di depan rekan kerja saya, Berlian yang duduk di belakang setir Peugeot 206 nya yang berpelat nomor BG, dan AC yang tidak berfungsi.

"Untuk urusan cinta Ber, gua seperti keledai, jatuh di lubang yang sama, melakukan kebodohan yang sama". Begitu persisnya kalimat saya.

Dia tertawa, dan seperti biasa, tanggapan dan analogi yang disajikannya mengajak saya melihat masalah dari perspektif yang beda.

"Ya udah deh Ber, keledai mau turun dulu ya". Kalimat itu menyudahi diskusi absurd kami malam ini.

Comments

Popular Posts