Skip to main content

Featured

Ke Gurun Aku Lari

Ke gurun aku lari, masalahku tetap mengikuti. Ke hutan aku sembunyi, masalahku tetap menghantui. Ke laut aku teriak, masalahku ikut menggema. Kutanya orang bijak, mereka hanya pandai bicara, menggurui dan menghakimi. Kudekap ia erat dalam pelukanku, sampai ia mati kehabisan napas.

Belajar Menghargai Keahlian Orang Lain

Gambar ini diambil dari status WhatsApp seorang teman, yang saya gunakan hanya untuk keperluan tulisan ini. 


Ini percakapan tengah hari selepas makan siang antara saya dan teman saya, seorang freelancer IT. 

Saya: Dari mane lu?

Freelancer: Dari kantor klien gua, di Kuningan.

Saya: Ooo

Freelancer: Elu sadar ga kalau masyarakat kita itu kurang menghargai ilmu, keahlian, pengalaman orang lain?

Saya: Maksudnya?

Freelancer: Iya mereka menganggap apa yang kita kerjain itu gampang, ngeluh ketika ngeliat tagihan yang kita sodorin setelah kita selesain kerjaan. "Kok mahal ya Mas, padahal kan cuma segitu aja kerjaannya, ngerjainnya juga sebentar kan?" 

Freelancer: Ya kalau gampang dan mereka bisa, kenapa ngga dikerjain sendiri aja? Iya kan? Gua kan bisa nyelesain masalahnya dalam waktu singkat, karena gua punya keahlian itu, yang gua pelajari lama. Harusnya mereka sadar dong, keahlian seseorang itu ngga datang gitu aja, mereka punya keahlian pasti sudah invest sesuatu, yaa waktu, biaya, tenaga, dalam waktu lama. Keahlian dan pengalaman itu yang harusnya mereka hargai.

Saya: I couldn't agree more. 


Saya memahami betul penderitaan batin teman saya itu, karena saya juga berusaha dan bekerja di bidang jasa. Salah satu tantangan usaha jasa itu, selain memasarkan jasa yang kita punya, ya hal di atas tadi. Banyak dari kita yang tidak bisa menghargai ilmu, keahlian dan pengalaman orang lain. 

Saya sama sekali tidak memahami komputer, kalau ada masalah apa pun, software maupun hardware, teman saya itulah tempat saya mengadu. Begitu dia lihat dan cek, lima menit kemudian selesai. Saya sering kali nyeletuk, "Ya Allah..cuma begitu doang ya?" Teman saya jawab: "Cuma begitu doang, elu bisa kagak?" Saya hanya nyengir. Kalau saya mengerjakan sendiri, belum tentu terpecahkan masalahnya, walaupun mungkin sudah berhari-hari saya coba. Akhirnya, saya akan nyerah. 

Yang harus kita pahami, seseorang ahli atau menguasai bidang tertentu, pasti setelah melalui proses panjang. Investasi waktu dan biaya, trials and errors. Bertemu masalah di sana sini yang pada akhirnya membawa orang tersebut berada di titik sekarang, memahami bidang yang digeluti, bahkan bisa dibilang ahli. 

Seperti saya, sudah lebih dari 20 tahun saya bergelut di bidang kekayaan intelektual, dari perjalanan panjang itu saya memahami seluk beluk paten, merek, desain industri, hak cipta, baik di dalam maupun di luar negeri. Saya tidak mengatakan saya ahli, tapi saya memahaminya secara utuh. 

Beberapa kali saya bertemu (calon) klien, yang menawar jasa di bidang ini sampai ke titik yang paling rendah, kalau bisa mereka bayar hanya dengan ucapan terima kasih, dengan alasan, "kan gampang ngerjainnya". Tawaran yang menyakitkan ini bukan hanya pernah saya alami dari perusahaan-perusahaan kecil, UMKM, start up, tapi ada juga dari perusahaan besar, PMA malah. Kalau saya sebutkan nama-nama perusahaan itu, pasti Anda akan terkaget-kaget. 

Jadi, tidak ada salahnya kita menghargai jasa orang lain, keahlian dan pengalaman orang lain. Karena percayalah, mereka menguasai bidangnya setelah melewati perjalanan panjang yang sangat melelahkan, berliku dan mendaki. 

Comments

Popular Posts