Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

Dialog dengan Teman dan Tuhan

Tadi pagi, hal yang pertama saya lakukan begitu bangun tidur adalah membuka note saya, buka whatsapp dan bertanya panjang lebar dengan seorang teman yang saya anggap punya pengetahuan agama dan keimanan yang jauh, jauuuuh sekali di atas saya.

Iman saya sedang berada pada titik yang sangat rendah, setipis-tipisnya. Saya tahu, ini gak bisa dibiarin gitu aja. Saya harus berbuat sesuatu, setidaknya bicara dengan orang yang bisa mengingatkan bahwa hidup sepenuhnya milik Maha Pencipta.

Setelah dialog pagi dengan teman, malam ini saya putuskan untuk berdialog dengan Pemilik hidup. Tidak banyak yang saya sampaikan, dan saya pun tidak yakin apakah dialog itu saya lakukan dengan benar (sudah lama sekali saya melupakan tahajud). Saya hanya minta diajarkan untuk dapat bersyukur dan ikhlas. Itu saja. Allah Maha Mendengar.

Comments

Popular Posts