Berlian

Ini tentang seorang co-worker, Berlian namanya, junior advocate di kantor tempat saya mengais rejeki.

Awalnya, kami berdua mengalami kesulitan untuk bekerja sama. Saya tidak sabar menghadapi cara kerjanya yang saya anggap lelet dan lamban dalam segala hal. Dia pun demikian. Dia kesulitan memahami emosi saya yang meledak-ledak, tidak sabaran, dan kadang-kadang lebay. Satu titik (tanda baca), bisa jadi masalah besar buat saya.

Awal yang sulit, tidak selamanya sulit. Pada akhirnya, kami berdua bisa saling memahami ritme kerja masing-masing. Chemistry kami berdua akhirnya klik. Belakangan saya memahami bahwa lambannya dia, karena ia cenderung, bahkan selalu, berpikir masak-masak, menganalisis masalah sampai akarnya. Dan saya menyukai kedalaman analisisnya.

Berlian seorang teman dan co-worker yang bisa diajak berdiskusi masalah apapun. Hasil olah pikirnya dan sudut pandang yang diambilnya dalam menyelesaikan suatu masalah, selalu berhasil membuat saya terkejut.

Baru-baru ini saya mengeluhkan hidup saya, perjalanan saya untuk menemukan pendamping, kepadanya. Suatu malam, di balkon kantor, dengan rokok di tangan masing-masing, percakapan pun mulai mengalir.

Saya:      "Gua capek Ber, gagal mulu. Udah sering banget kejadiannya kaya gini. Gua udah nyaman, udah deket, eh malah menjauh. Sumpah, capek banget gua Ber."
Berlian:   "Mungkin elu ngasih jawaban yang sama untuk persoalan yang beda."
Saya:      "Maksudnya Ber? Gua gak ngerti deh."
Berlian:   "Maksud gua gini. Kalo kita ujian, pasti soalnya beda-beda. Soal yang kita hadapi waktu kuliah, dan soal yang kita hadapi di dunia kerja, pasti beda kan?"
Saya:      "Iya."
Berlian:   "Nah, coba lu kasih jawaban yang beda, pendekatan yang beda, mungkin hasilnya akan beda."

Pendapatnya sederhana, tapi mengena. Ya, mungkin masalahnya ada dalam diri saya sendiri. Mungkin cara saya yang salah dalam menghadapi isu terberat dalam hidup saya ini.

Comments

Popular Posts