Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

Impossible itu mustahil, tidak mungkin

Suatu waktu, saya berucap seperti ini ke teman lelaki saya, "kemungkinan kamu untuk kembali ke istri kamu itu gede banget. Kalian berdua masih muda, dan Dimas pengikat yang kuat buat kalian". Dimas (nama palsu) itu anaknya, masih kecil, baru kelas 1 SD. 

Menanggapi kalimat di atas, lelaki yang saya cintai itu bilang gini, "Ngga mungkin. Ngga mungkin banget". 

Dua atau tiga bulan kemudian, saya terhenyak dan masuk ke dalam zona degradasi lagi, ketika tiba-tiba lelaki yang masih saya cintai sampai sekarang ini, memutuskan saya dengan alasan ingin kembali ke keluarganya, ke anak istrinya. Apa yang terjadi dengan kata "Ngga mungkin" tadi? Ketidakmungkinan itu berubah dalam waktu sekejap, in the blink of an eye, (I know, shit happens in life). 

Sungguh dia telah mengajarkan saya untuk tidak mempercayai kata tidak mungkin, mustahil, impossible atau padanannya yang lain. Thanks a lot for that. 


Comments

Popular Posts