Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

Fery Sripatria Grahadi

Dear Fery,

We were together only for 3 months, such a short period to know each other, to learn our flaws, to understand that we were both unique in our own ways, to see what the future got in store for both of us.

In the end, we knew that the future had nothing in store for both of us. We learned that our ways would not go to the same direction.

And in the end, in the short period we were together, I learned so many things during the very short time when You and Me were Us. Thanks to you for teaching me not to believe in the word of impossible. The word should not exist in one's dictionary of life.

My dear Fery Sripatria Grahadi, now I let you go whole heartedly.

Comments

Popular Posts