Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

PokoPoko dan Bayu

Tadi, barusan aja, ketika saya sedang berada di level 108 PokoPoko, tiba-tiba ponsel saya bunyi. Nomor tidak dikenal, tapi toh tetap saya angkat, siapa tau rejeki atau mungkin jodoh dari surga.

"Halo", kata saya. Suara di seberang empuk menjawab, "Halo, ini Sari ya?"
"Iya. Ini siapa?" Saya balik nanya. "Bayu, Sar. Kamu apa kabar?"

Suara yang sama, nada yang masih sama, tekanan kata yang tetap sama. Dan seketika itu juga, Gambir, jingga sore, depok express, Depok Baru, kereta mogok, kepala burung, kerupuk kulit, bisingnya suara announcer, Dukuh Atas, taruhan konyol, BengBeng, dan banyak hal lainnya berkelebat dalam ingatan, seperti sebuah film hitam putih yang diputar kembali di kepala saya.

A 20 minute call and I was like time traveling back to the past. Gosh. It's been ages. Where have those years gone?

And guess what, he was in KL too for some time when I was completing my contract there.

Comments

Popular Posts