Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

Sepeda berkeranjang didepan

4 juni 2005 kemarin, tepat 5 tahun usia keponakan saya. Sebenernya udah terpikir dari jauh-jauh hari buat kasih kado ke dia, tapi ga tau kenapa sampe hari H nya, tuh kado belom saya beliin.

Biiip..biiiip..biiiip...pagi-pagi banget reminder di hp saya bunyi ngingetin hari ultah itu, whoooaa… kucek….kucek…kucek…saya mesti buru-buru bangun nih buat cari kado itu. Mandi sambil bernana-nini..hhmmmm seger, ngantuknya udah bener-bener ilang. Selamat pagi duniaa :-)

Sambil beresin tempat tidur, saya inget-inget lagi berapa dana yang tersisa dikartu saya…mmmmm (berpikir agak lama, kemarin tarik sekian buat bayar kartu kredit saya, 3 hari yang lalu ambil Rp. Sekian waktu jalan ke donatello, seminggu yang lalu bayar tagihan telpon, sementara dua hari lagi mesti check up ke dokter. **dizzy**). Jadi berapa dong sisanya?? Sementara saya tau banget keponakan saya itu, putri mungil itu, lagi pingin banget sepeda yang ada keranjang didepannya :-(

Akhirnya, menjelang siang itu saldo tabungan sayapun semakin menipis (maksud saya tipiiiiiiis banget). Namun sebagai gantinya saya pulang dengan sebuah sepeda mini merah berkeranjang didepan yang pasti cocok banget dinaiki sama keponakan saya itu. Begitu saya liat muka lucunya sumringah sambil memandang takjub sepeda itu, saat itu juga saya udah lupa sama tipiiiiiisnya saldo tabungan saya :-))

Comments

Tatz Sutrisno said…
This comment has been removed by a blog administrator.
Tatz Sutrisno said…
daku pun berhutang es krim sama putri jutek itu....(untung putrinya jauh lebih cantik daripada temennya yg punya sepeda duluan) heheheheeu.

Popular Posts