Skip to main content

Kita yang Terkotak-kotak

Image hosted by Photobucket.com

Kok terkotak-kotak? Apa maksudnya? Tadinya saya mau kasih title ‘Masyarakat Tanpa Kelas’, tapi kok kedengerannya Marxist banget ya, padahal yang mau saya ungkapin bukannya idealisme Karl Marx. Walopun ada beberapa hal dari Marxisme yang saya anggap bagus juga, yaa masyarakat tanpa kelas tadi. Saya cuma bayangin kalo didalam masyarakat ga ada pengkotak-kotakan berdasarkan kondisi sosial ekonomi seseorang, mungkin hal-hal sumbang yang mau saya omongin dibawah ini ga akan terjadi. Apalagi beda kelas dinegara kita (tercinta) ini timpang banget, kayak siang ama malem.

Sadar ga sih kalo kita sering banget menertawakan orang cuma karena dia ga tau sesuatu yang kita omongin? Kita anggap kuper, ga gaul, ga nyambung? Sering banget pasti deh. Tapi coba sebelum kita memutuskan untuk tertawa, kita kasih otak kecil kita kesempatan untuk menimbang, patut ga sih kita kasih ketawa kita? Pernah ga kita tanya ke diri kita, kenapa sih dia ga nyambung sama yang kita omongin?

Mungkin buat sebagian kita, biasa aja makan siang di Babe Lili (warung ikan bakar yang konon katanya enak banget, adanya diseberang tempat saya cari penghidupan), gado-gado cemara yang mahal tapi tetep aja berasa gado-gado, makan dimacem-macem resto fast food, Japanese food, atau direstoran hotel bintang lima yang sekali makan bakal ngabisin 1 bulan gaji saya. Tapi kita inget ga sih, bahwa kita terbagi kedalam kelas-kelas yang ga semuanya bisa menikmati makanan ditempat-tempat mewah tersebut? Hanya sebagian kecil yang bisa, inget deh, cuma sebagaian kecil. Percaya ga kalo sebagian besar masyarakat kita itu, bukan berasal dari kelas penikmat makanan mewah itu. Justru yang lebih banyak adalah kelas-kelas bawah yang kalo hari ini bisa makan aja udah syukur, kalo ga sampe kena busung lapar aja udah bagus banget. Ayo dong buka mata, Indonesia ini ga cuma sebatas Jakarta aja, banyak masyarakat dipelosok-pelosok yang kehidupannya bikin hati miris. Lha wong dijakarta aja banyak yang (maaf) menjual diri buat bisa nerusin hidupnya.

Inget lagi, kita terbagi kedalam kelas-kelas yang beda kemampuan ekonominya. Banyak dari kita yang asing sama wajah cantiknya Charlize Theron, muka lucunya Dakota Fanning waktu dia nerima MTV Awards 2005, apa atau siapa Manolo Blahnik (I’m not so sure about the spelling, tuh kaan!?) itu, Prada itu sejenis makanan atau apaan sih, atau kenapa para Jedi itu harus mati-matian melawan the Sith, atau blog itu gimana sih. Bukan, bukannya mereka (saya) ga mau tau tentang hal-hal seperti itu, tapi karena memang ga punya akses yang cukup untuk bergaul akrab dengan item-item yang buat sebagian orang merupakan hal yang biasa aja. Inget lagi, kita terkotak-kotak oleh kelas yang berbeda-beda karena latar belakang ekonomi sosialnya yang ga sama.

Jadi, sebelum kita memutuskan untuk menertawakan seseorang atas ketidakakrabannya dengan sesuatu, cobalah kita bersikap lebih bijak lagi, mungkin dia bukan berasal dari kelas yang memudahkannya menjangkau hal tersebut. Lagi pula emangnya kita berhak yaa menertawakan hidup orang lain??

Comments