Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2015

Kemeja lengan panjang

Beberapa waktu lalu, saya beli dua buah kemeja lengan panjang yang sejatinya akan saya berikan untuk dia. Sore ini akhirnya saya putuskan untuk memberikan kedua kemeja itu kepada dua orang rekan kerja saya.

Newton's cradle five-ball pendulum (office toy - I)

It just arrived safely this very morning, my Newton's cradle, which I bought like a month ago on eBay. It had been a while I wanted to have it on my desk. So one day, I browsed to see if there was any online shop selling the stuff. And there were a lot! 
I stumbled upon a very good offer on eBay for a small design of Newton's cradle five-ball pendulum, and it was free shipping. So, within a minute the colliding balls, which was named after the English physicist Sir Isaac Newton, was already on my shopping chart. 
I always wonder how this simple design, five small balls suspended by thin threads attached to two horizontal bars, works. I keep pulling one or two or three balls then release them and watch them rock back and forth.

Not so normal at all

Today is not so normal. It was only 7.53 am when I reached office. Impressive!

On a very normal day, I would still be lying on my bed, watching morning news and playing PokoPoko. Yes, multitasking. At eight sharp in the morning, I would have a shower, put a little make up, choose the most comfortable outfit, then rush to office.

Today is not so normal then, and I think I like it.

It's just an option

I hate eating (out) alone. I guess most people do. But sometimes (and sometimes becomes so many times lately) I just don't have any choice. Like now, life only gives me two options, either eating alone or starving to death. Leaving with those two options, I prefer eating alone than starving to death.

The epic journey

Hari kedua belajar nyetir dari jam 6 pagi sampai jam 3 sore, sudah lumayan. Saya bisa melewati jalan kampung yang sempiiiitt, juga jalan Prumpung - Parung yang rusak parah, berbatu, lubang dalam di sana sini dengan kubangan lumpur, dan truk-truk di depan, belakang dan sebelah kanan saya. Saya tegang, tapi untungnya teman saya sang instruktur, tetap tenang dan santai. Benar-benar membantu saya menguasai rasa panik dan tegang itu.Hari ini, roda depan mobil berhasil masuk ke dalam got, kemudian menabrak pot bunga besar di depan warung pinggir jalan, dan terakhir, begitu akan masuk gang depan rumah saya, berhasil menabrak pagar rumah tetangga.Sungguh bagi saya ini perjalanan yang menegangkan dan memacu adrenalin. And I call it an epic journey.

Belajar nyetir (lagi)

Tepat jam 5:00, ada sms masuk, isinya singkat "Bangun!" Dari teman saya, yang sudah janji hari ini mau ngajarin nyetir. Ini bukan kali pertama, dulu pernah juga ngajarin saya nyetir, tapi sayanya males latihan, jadi lupa lagi.Jam 5:30 kami meluncur ke Telaga Kahuripan, Parung. Kemudian, selama 4 jam ke depan, saya mengakrabkan diri dengan kopling, gigi, rem dan gas. Hasilnya? Belum banyak kemajuan. Duh.

Bertutur tentang Melajang

Menikah memang bukan harga mati. Tapi melajang di usia 40-an juga tidak gampang, sering kali berurai air mata. Paling tidak, dalam kasus saya seperti itu. Tutur saya tentang melajang di sini, hanya berdasarkan perspektif dan pengalaman pribadi, tidak mewakili lajang-lajang lainnya di usia seperti saya. 

Saya sadar, saya tidak sendirian berada di posisi ini. Saya punya beberapa teman yang sama-sama masih melajang, yang beberapa tahun lebih tua atau muda dari saya. Saya sendiri tidak pernah merencanakan untuk terlambat menikah, untuk tetap mempertahankan ke-single fighter-an saya sedemikian lama. Walaupun memang saya juga tidak berencana menikah di usia muda, awal 20-an misalnya. 

Suatu malam, di teras kantor, istri bos saya bilang gini, "Sari, kalau kamu pikir menikah dan berumah tangga itu seperti surga, kamu salah besar. Menikah itu menyatukan dua kepala yang berbeda. Kalau kita tidak banyak bersabar dan merendahkan ego kita, menikah rasanya akan seperti di neraka. Saya sudah meng…

PokoPoko dan Bayu

Tadi, barusan aja, ketika saya sedang berada di level 108 PokoPoko, tiba-tiba ponsel saya bunyi. Nomor tidak dikenal, tapi toh tetap saya angkat, siapa tau rejeki atau mungkin jodoh dari surga."Halo", kata saya. Suara di seberang empuk menjawab, "Halo, ini Sari ya?"
"Iya. Ini siapa?" Saya balik nanya. "Bayu, Sar. Kamu apa kabar?" Suara yang sama, nada yang masih sama, tekanan kata yang tetap sama. Dan seketika itu juga, Gambir, jingga sore, depok express, Depok Baru, kereta mogok, kepala burung, kerupuk kulit, bisingnya suara announcer, Dukuh Atas, taruhan konyol, BengBeng, dan banyak hal lainnya berkelebat dalam ingatan, seperti sebuah film hitam putih yang diputar kembali di kepala saya. A 20 minute call and I was like time traveling back to the past. Gosh. It's been ages. Where have those years gone? And guess what, he was in KL too for some time when I was completing my contract there.

Impossible itu mustahil, tidak mungkin

Suatu waktu, saya berucap seperti ini ke teman lelaki saya, "kemungkinan kamu untuk kembali ke istri kamu itu gede banget. Kalian berdua masih muda, dan Dimas pengikat yang kuat buat kalian". Dimas (nama palsu) itu anaknya, masih kecil, baru kelas 1 SD. 

Menanggapi kalimat di atas, lelaki yang saya cintai itu bilang gini, "Ngga mungkin. Ngga mungkin banget". 
Dua atau tiga bulan kemudian, saya terhenyak dan masuk ke dalam zona degradasi lagi, ketika tiba-tiba lelaki yang masih saya cintai sampai sekarang ini, memutuskan saya dengan alasan ingin kembali ke keluarganya, ke anak istrinya. Apa yang terjadi dengan kata "Ngga mungkin" tadi? Ketidakmungkinan itu berubah dalam waktu sekejap, in the blink of an eye, (I know, shit happens in life). 
Sungguh dia telah mengajarkan saya untuk tidak mempercayai kata tidak mungkin, mustahil, impossible atau padanannya yang lain. Thanks a lot for that. 

Dialog dengan Teman dan Tuhan

Tadi pagi, hal yang pertama saya lakukan begitu bangun tidur adalah membuka note saya, buka whatsapp dan bertanya panjang lebar dengan seorang teman yang saya anggap punya pengetahuan agama dan keimanan yang jauh, jauuuuh sekali di atas saya. Iman saya sedang berada pada titik yang sangat rendah, setipis-tipisnya. Saya tahu, ini gak bisa dibiarin gitu aja. Saya harus berbuat sesuatu, setidaknya bicara dengan orang yang bisa mengingatkan bahwa hidup sepenuhnya milik Maha Pencipta. Setelah dialog pagi dengan teman, malam ini saya putuskan untuk berdialog dengan Pemilik hidup. Tidak banyak yang saya sampaikan, dan saya pun tidak yakin apakah dialog itu saya lakukan dengan benar (sudah lama sekali saya melupakan tahajud). Saya hanya minta diajarkan untuk dapat bersyukur dan ikhlas. Itu saja. Allah Maha Mendengar.

Mario Steven Ambarita

Satu kata untuk Mario, superb! Saya benar-benar takjub dengan anak muda 21 tahun ini, bisa-bisanya dia masuk ke dalam ruang roda belakang pesawat Garuda GA 177, yang lepas landas dari Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru menuju Jakarta. Pihak bandara seharusnya malu. Gimana bisa bandara yang seharusnya punya sistem keamanan tanpa cela, kecolongan sedemikian rupa? Well done, Mario. Untung selamat sampai tujuan. Semoga cepat pulih.

Saya Keledai

Kok bisa jadi keledai? Ya, saya merasa demikian adanya. Untuk urusan cinta, saya seperti keledai. Hal itu saya akui dengan sepenuh hati, sejujur-jujurnya, di depan rekan kerja saya, Berlian yang duduk di belakang setir Peugeot 206 nya yang berpelat nomor BG, dan AC yang tidak berfungsi."Untuk urusan cinta Ber, gua seperti keledai, jatuh di lubang yang sama, melakukan kebodohan yang sama". Begitu persisnya kalimat saya. Dia tertawa, dan seperti biasa, tanggapan dan analogi yang disajikannya mengajak saya melihat masalah dari perspektif yang beda."Ya udah deh Ber, keledai mau turun dulu ya". Kalimat itu menyudahi diskusi absurd kami malam ini.

#NoteToSelf

Kopiku Pagi Ini

Kopi yang tersaji di meja kerja saya pagi ini, benar-benar pas. Hitamnya, kentalnya dan manisnya yang di bawah rata-rata. Ya, saya suka kopi saya hitam, kental, tidak terlalu manis malah cenderung pahit.

Selamat pagi, Sari. Selamat menjalani hari yang berbanding terbalik dengan preferensi kopimu.

Mati Sajalah

Mati sajalah kau rasa ini, 
biar tak ada lagi kupu-kupu yang menari dalam perut, 
biar tak ada lagi kebodohan-kebodohan aku buat.
Sungguh memuakkan. 

Mati sajalah kau rasa ini, 
beristirahat dengan tenang, sampai kiamat benar-benar datang, 
berbaringlah dalam dekapan gelap. 
Sumpah aku takkan menghampirimu lagi. 

Mati sajalah kau rasa ini, 
biar aku bisa menari lagi dalam hujan, 
atau sekedar memandangi bulan tanpa beban. 

Mati sajalah kau rasa ini, aku takkan menangisimu lagi.

Drama? Lebay?

Ada seorang teman yang melabeli saya "drama queen". Sejauh ini, saya tidak mengakui atau menyangkalnya. Saya tahu, pelabelan apapun yang diberikannya kepada saya, itu semata-mata karena dia sayang saya.

Benar atau tidaknya bahwa saya drama queen, saya juga tidak tahu. Yang jelas, saya memang sering kali bereaksi lebih, cenderung lebay dan ekstrem terhadap rasa sakit (hati), terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan perasaan. Dalam hal ini, perasaan mendominasi akal sehat saya.

Ketika cinta mendatangi dan saya jatuh di dalamnya, saya menjadi manusia yang paling bahagia di dunia. Berdesir-desir, berdebar-debar. Seribu kupu-kupu menari-nari dalam perut saya. Saya akan lakukan apapun untuk cinta itu. Kadang saya menggenggamnya terlalu kuat, hingga dia mati dalam genggaman tangan saya.

Ketika kemudian cinta itu menguap, dan tidak ada kupu-kupu lagi yang menari dalam perut ini, maka saya akan merasa menjadi orang yang paling merana, paling sengsara di dunia ini. Seperti pes…

Berlian

Ini tentang seorang co-worker, Berlian namanya, junior advocate di kantor tempat saya mengais rejeki. Awalnya, kami berdua mengalami kesulitan untuk bekerja sama. Saya tidak sabar menghadapi cara kerjanya yang saya anggap lelet dan lamban dalam segala hal. Dia pun demikian. Dia kesulitan memahami emosi saya yang meledak-ledak, tidak sabaran, dan kadang-kadang lebay. Satu titik (tanda baca), bisa jadi masalah besar buat saya. Awal yang sulit, tidak selamanya sulit. Pada akhirnya, kami berdua bisa saling memahami ritme kerja masing-masing. Chemistry kami berdua akhirnya klik. Belakangan saya memahami bahwa lambannya dia, karena ia cenderung, bahkan selalu, berpikir masak-masak, menganalisis masalah sampai akarnya. Dan saya menyukai kedalaman analisisnya. Berlian seorang teman dan co-worker yang bisa diajak berdiskusi masalah apapun. Hasil olah pikirnya dan sudut pandang yang diambilnya dalam menyelesaikan suatu masalah, selalu berhasil membuat saya terkejut. Baru-baru ini saya mengeluhk…

Fery Sripatria Grahadi

Dear Fery, We were together only for 3 months, such a short period to know each other, to learn our flaws, to understand that we were both unique in our own ways, to see what the future got in store for both of us. In the end, we knew that the future had nothing in store for both of us. We learned that our ways would not go to the same direction.And in the end, in the short period we were together, I learned so many things during the very short time when You and Me were Us. Thanks to you for teaching me not to believe in the word of impossible. The word should not exist in one's dictionary of life. My dear Fery Sripatria Grahadi, now I let you go whole heartedly.