Hoping for the Best, Prepared for the Worst

Kemarin ditengah jalan mau kekantor, tiba-tiba turun hujan lebat. Untung saya selalu bawa jas hujan ditas saya (pergi dan pulang ke kantor, nebeng naik motor temen), jadi saya bisa melanjutkan perjalanan ditengah hujan deras itu. Hari sebelumnya, saya ngga bisa ikut pulang bareng sama temen saya itu gara-gara dia harus jemput anaknya. Untung saya bawa uang lebih dikantong saya untuk ongkos naik kereta Depok Express (awal tahun ini naik 1500 perak, jadi 7500 sekali jalan, damn!). Tadi pagi pas di lady’s, tiba-tiba (maaf) retsleting celana saya rusak, ngga bisa dipasang. (Lagi-lagi) untung saya selalu sedia celana panjang dilaci meja saya, buat back up kalau-kalau terjadi situasi seperti ini.

Apa sih yang bisa diambil dari kejadian-kejadian tak diharapkan diatas? Yaa, bahwa segala sesuatu itu ngga selamanya berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Kita boleh mempunyai rencana apa aja, agenda seperti apa aja, dan kita boleh aja mempersiapkan diri matang-matang buat rencana kita itu. Tapi kita juga ngga boleh lupa bahwa ada faktor x yang seringkali ngga terduga datangnya untuk membuat sesuatu berjalan tidak terlalu sempurna.

Saya rasa akan lebih bijak kalau kita selalu mengingat keberadaan faktor x ini, jadi kalaupun hal itu terjadi kita ngga terlalu kaget atau malah mungkin kita sudah siap menghadapi kemungkinan buruk yang pastinya ngga kita inginkan. Saya yakin kita semua pasti siap untuk menghadapi kemungkinan terbaik, tapi jika yang muncul adalah kemungkinan buruk, rasanya sedikit sekali yang siap ya. Tapi kita ngga bisa nolak kan!? Mau ngga mau harus kita jalani.

So, be prepared for the worst.

Comments

Popular Posts