Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

Telpon


Image hosted by Photobucket.com

Tulilililit tulilit…telpon dimeja saya bunyi.

Saya: halooo *suara merdu menjual*
Penelpon: De..hehehe hihihi hehehe…
Saya: kenapa luw?? *alis hampir nyatu*
Penelpon: hehehe..hihihi..hehehe *masih ketawa ga jelas*
Saya: ddiiiihh..kenapa si luw?? *alis udah bener2 nyatu*
Penelpon: hihihi..hehehe…ngga…
Saya: yeee apaan si luw ah?? *ketawa takut2 en ngeri*
Penelpon: nggaaa… gw lagi pingin ketawa aja ama luw hehehe…
Saya: lho…!? *gubrak*

Emang, ada yang aneh kemarin ama tatz, si penelpon itu.

Comments

Anonymous said…
waduh si tatz ya huehehehe ada2 aja
Tatz Sutrisno said…
duh..jadi malu.
waktu itu gw emang lagi pengen ketawa lepas tapi situasinya ga memungkinkan..so ta' telpun lah sari...*there's something bout me yesterday* hip-hip horrey.
zuki said…
baru tahu kalau tatz bisa kaya' gitu ... :-P

Popular Posts