Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

I wish...

Image hosted by Photobucket.com

I didn’t have to get up at 5 am then rush to work (masih ngantuk tau..)
My boss would double my salary than I have now (keep on dreaming honey :p)
Somebody cleaned up my desk every morning (banyak debu, males banget bersihinnya niiyhh)
I could sleep at work (minimal 2 jam lah, dari jam 1 ampe jam 3 kurang deh pas lagi ngantuk2nya)
Weekdays were only 4 days a week (whooaaa asik suit suit)
Someone would cover bills for my damn credit cards (hehe..saya tunggu lho orangnya)

Huehehe…wish nya orang males *geleng2 takjub*

Comments

Anonymous said…
This comment has been removed by a blog administrator.

Popular Posts