Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut
Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...
Comments
gw juga sering berimajinasi, bagaimana ketika gw pengen ada sari, eh dia ada. minimal telepon gitchu.. imajinasi yang memungkinkan kah???
he..he..he.. jangan marah lo sar..
aku... biasanya kalo ada cowok cakep buanget di depanku.. aku suka membayangkan: tiba-tiba dia datang dan menciumku. Huaa... serasa dilangit!
muka gw kan muluz en bulu idung gw pendek....huahaha.