Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

BM

Tadi pagi, begitu gua buka mata, gua udah bisa ngerasain tanda-tanda itu ada. Tanda-tanda gua bakalan BAD MOOD seharian. Perasaan gua udah gak enak, udah males ngapa-ngapain. Gua udah berusaha melawan gejala itu, gua senyum sama dunia, gua nyanyi-nyanyi, berusaha berpikir positif. Semuanya gak berhasil.

Seharian tadi banyak banget kejadian yang bikin mood gua tambah terpuruk. Dan pada saat seperti itu, gua jadi sangat sensitif. Gua akan bereaksi berlebihan terhadap hal-hal kecil, apalagi terhadap hal yang melukai harga diri gua. Sialnya lagi, hari ini gua berhubungan sama orang yang jelas-jelas menjadikan gua ban serep. Gua udah pengen nimpuk aja ama high heels yang baru gua beli minggu lalu. Belum lagi mesti ngadepin orang yang ngambek, bikin cape gua.

Setelah menelan beberapa pil pahit, hari ini gua ended up sesenggukan dengan suara tertahan di surau. Ya Allah, betapa susahnya ikhlas.

Comments

Popular Posts