Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

maaf..

Iya emang belakangan ini saya ga pernah buka-buka blog ini atau jalan-jalan ketetangga, maaf bukannya sombong, bukanya sibuk, bukannya ga mau mampir ketempatnya pak Zuki, Naanaa, Tatz, Bebek, Heru, Ojan plus yang lain-lain, maaf tapi ga tau kenapa bawannya males mulu, maaf lagi yaa..(yaa emang harus banyak-banyak minta maaf kita nih)

Comments

zuki said…
maaf diterima hehehe ... cuma blognya sendiri nggak terima kali maafnya ... :-P
naanaaa said…
ehm.. ehmmm... ya gimana dooonnngggg.... dong... dong... dongg... :D
zuki said…
maaf ... cuma mau numpang lewat .... :-P
zuki said…
numpang liwat lagi ... :-P

Popular Posts