Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

Kebohongan, patutkah dimaafkan?

Berapa kali sehari kita ngomong bohong?berapa kali sehari kita dibohongin?gimana rasanya pas tau klo kita dibohongin?pasti sakit banget, kesel, bete dan padanan katanya deh pokoknya. Terus sebenarnya perlu ga sih kita memaafkan kebohongan itu? mungkin kita harus lebih bijak menyikapi suatu kebohongan. Perlu rasanya kita cari tahu alasan seseorang berbohong, pasti ada alasannya, gw yakin banget karena setiap tindakan atau ucapan pasti ada sesuatu yang melatarbelakanginya. Dari situ kita bisa nilai, apa kebohongan itu reasonable?white lies?atau bnr2 buat cari untung sendiri? klo memang make sense, ga ada salahnya kita maafin kebohongan itu and try to live with it. Susah sih, tp patut dicoba.

Comments

Popular Posts