Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

bapak pergi

Bapak saya, Bapak Subandi bin Suwargi, hari ini tadi pagi sebelum subuh, pergi untuk selamanya. 

Saya tidak sempat meminta maaf dan mengucapkan selamat tinggal. 2 tahun beliau hanya terbaring di tempat tidur. Saya pun belum sempat memperbaiki kamarnya, membuatnya menjadi tempat yang lebih nyaman. 

Semoga Bapak tenang sekarang, tidak merasakan sakit lagi. Semoga ringan langkah Bapak, dan terang jalannya.

Comments

Popular Posts