Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

Pergi Duluan

Aku ingin pergi duluan, 
sebelum matahari terbit membuat bulan membuka wajah aslinya, pucat pasi tidak punya cahaya sendiri. 
Pergi duluan, 
sebelum kembang sepatu yang tumbuh di pertigaan jalan, tertunduk layu dan mati perlahan. 
Pergi duluan, 
meninggalkan riuh rendah geliat semesta. 
Aku ingin pergi duluan, supaya tidak merasakan kehilangan. 


Catatan:
Duluan bukan kata baku, tidak terdapat dalam KBBI.

Comments

Popular Posts