Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

Catatan dari pemakaman

Lalu, apalah lagi artinya uang, harta kekayaan, jabatan, karir cemerlang,  kekasih tampan rupawan cantik jelita, ketika badan telah berbungkus kain putih tanpa jahitan itu?

Hati saya ciut, badan saya merinding ketika tubuh tanpa nyawa yang tidak pernah saya kenal itu diturunkan ke liang lahat. Inilah rumah masa depan sesungguhnya, tempat kita beristirahat sepuasnya. Semua kita, hanya tinggal menunggu waktu.

Mimpi tentang kekasih sejati, rumah nyaman, dan mobil idaman pun tiba-tiba kehilangan makna, tidak berarti apa-apa.

Comments

Popular Posts