Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

Sleepless or endless thoughts: which one comes first?

For me, being able to sleep before 12 at night is a blessing. My sleeping problem reoccurs lately. At the worst time, I would only be able to close my eyes at 5 in the morning. No matter how hard I try, my eyes betray me, they refuse to sleep. Then some time before 8 AM, I would be awake with a heavy head and feeling dizzy. It feels like I walk in the air, my feet do not even touch the ground.

In the sleepless night, there is so much noise in my head, endless thoughts of everything roaming around. I think of all stuffs; work, personal life, family and relatives, financial issues, dreams, rejections, pains, loneliness, even life after death and the list is still on and on.

The sleepless nights always grant me endless thoughts. Or is it the other way around instead?

Comments

Popular Posts