Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

Ternyata Aku Masih Menangis

Aku mendengar angin membisikkan namamu, aku menangis
aku melihat bulan menyunggingkan senyummu, aku menangis
aku menyadari bintang masih mengerlingkan matamu, aku menangis
semua yang mengingatkan aku padamu masih membuat aku menangis

Aku menangis ketika tak ada lagi lenganmu untuk ku gandeng
aku menangis ketika tak dapat lagi ku dengar suaramu
aku menangis ketika malam melenyapkan bayanganmu
aku menangis ketika cintaku tak mampu menahan pergimu

Ternyata aku masih menangis pada segala yang mengingatkanku padamu, dan semua hal mengingatkan aku padamu
ternyata aku masih menangis sejak saat aku kehilangan dirimu, sampai saat ini.

Comments

Popular Posts