Tentang Gambir (Lagi)

Semua orang pasti punya tempat kenangan, ataupun tempat yang memercikkan chemistry tertentu ketika kita ada di sana, menimbulkan geliat aneh dalam diri kita. Salah satu tempat yang mempunyai efek tersebut buat diri saya adalah Gambir. Iya, Stasiun Gambir. Buat saya tempat tersebut bukan hanya tempat orang bertemu atau berpisah, tempat orang pulang atau pergi kerja, tapi tempat itu salah satu tempat bersejarah buat hati saya. Kenapa bisa begitu? Nanti deh saya cerita.

Ngomong-ngomong tentang stasiun kereta, agak menyimpang sedikit ya, sama halnya seperti bandara, pelabuhan, atau terminal, selalu memberikan atmosfir yang lain buat saya. Karena di tempat itulah orang biasanya bertemu atau berpisah. Ditempat itu ada wajah harap-harap cemas dan tidak sabar karena sebentar lagi bakal bertemu orang yang dicintai, senyum bahagia ketika akhirnya orang tersebut tiba juga, wajah sedih karena harus melepas orang yang dicintai, wajah lelah, wajah marah, dan seribu satu macam wajah lainnya.

Ok, back to the story. Di Gambir saat itu, saya tidak hanya melihat raut-raut wajah diatas. Saya tidak hanya melihat kaum komuter yang bergegas takut ketinggalan kereta, saya tidak hanya melihat backpackers dengan ransel besarnya, saya tidak hanya mendengar suara announcer yang tidak jelas, saya tidak hanya mendengar peluit panjang, suara berat mesin kereta, atau suara riuh rendah lainnya. Di tempat itu, pertama kali saya bertemu orang yang kemudian selalu mengisi hari-hari saya. Orang yang selalu membuat saya bergegas untuk segera tiba di Gambir setelah jam kantor usai, orang yang membuat hati saya bersenandung dan bibir saya tersenyum tanpa saya minta. Dia tidak hanya mengajarkan saya untuk punya mimpi, untuk tidak takut bermimpi segila apapun mimpi itu, tapi dia juga mengajarkan saya untuk bangun dan kemudian mencari jalan meraih mimpi yang kita punya. Dan saat itu, jadilah Gambir pengobat rasa lelah, rasa penat, dan rasa jenuh saya dengan tugas-tugas kantor. Saat itu pula, hati saya bersekutu dengan kinerja KAI yang jarang sekali bisa membuat kereta datang dan pergi tepat waktu. Karena, semakin terlambat kereta datang, itu artinya semakin lama pula waktu yang saya habiskan untuk mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibirnya walaupun suara itu harus bersaing dengan suara-suara lain, semakin lama pula saya bisa memandang kerutan di sudut matanya ketika dia tertawa karena lelucon saya atau kebodohan saya, semakin lama pula kami berdua bermain tebak karakter dari wajah-wajah yang ada di sekitar kami sambil menikmati matahari yang perlahan menghilang diantara gedung dan udara Jakarta yang kaya akan timbal beracun.

Ketika akhirnya kereta datang, gerbong yang sesak tidak menjadi alasan buat kami untuk menghentikan cerita sore sampai disitu. Pandangan hangat tetap berlanjut seiring deru mesin kereta yang menenggelamkan gemuruh di dada saya. Saya pun berharap, sore-sore selanjutnya akan tetap seperti ini untuk menjadi sore yang terbaik yang pernah saya lalui.
Saat ini pun ketika Gambir tidak lagi menjadi rute harian saya, ketika situasi kami berdua tidak mengijinkan saya untuk selalu dekat atau bahkan lebih dekat dari yang saya ingin, Gambir masih jadi tempat dimana saya merasakan geliat aneh itu, dimana rasa nyaman menggantikan rasa lelah dalam diri saya. Partikel kimia itu masih hidup dalam hati saya sampai saat ini. Sampai nanti mungkin.

Comments

Popular Posts