Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

aku disini

Malam ini, dan malam-malam sebelumnya, aku terdampar di pulau sunyi tak bernama, tanpa penghuni. Dimana angin pun tidak punya suara, langit tak berwarna dan air tak beriak. Bulan, sabit atau pun purnama, sama saja, dia tidak bisa tersenyum apalagi tertawa. Bintang-bintang, mereka ada di langit tapi tak mampu berkerlip. Di tempat ini, cinta tidak pernah bisa tumbuh dengan sempurna ataupun hanya sekedar singgah, air mata pun bisa jatuh tanpa sebab.
Dan aku yang ada disini, seperti sudah terdampar ribuan tahun tanpa kapal yang dapat membawaku ke seberang lautan.

Pada akhirnya, malam ini, seperti malam-malam yang lewat, aku semakin terdampar dalam kesunyian absolut, menyatu dalam pasir tanpa bisik yang diselimuti kekosongan tak bertepi. Mengerikan hiiiii…!!

Comments

zuki said…
Allah ada di mana-mana ... Ia tak akan melupakan kita kecuali kita melupakanNya ... terus semangat ya ... :)

Popular Posts