Skip to main content

Featured

Buku dan Anak Usia 1 Tahun: Tentang Kata, Waktu, dan Kehadiran

Di usia 1 tahun, anak belum mengenal huruf, belum memahami cerita, bahkan belum bisa duduk lama mendengarkan. Namun justru di usia inilah, buku memiliki makna yang sangat sederhana dan penting, yaitu kehadiran.   Buku bukan tentang membaca. Buku adalah tentang duduk bersama, membuka halaman perlahan, dan membiarkan kata-kata hadir lebih dulu di udara.   Kata yang Didengar, Bukan Dibaca   Anak usia 1 tahun mengenal dunia lewat suara. Ia menyerap nada, irama, dan pengulangan. Saat sebuah buku dibacakan, yang bekerja bukan hanya telinganya, tetapi juga rasa amannya.   Buku dengan kalimat pendek, pengulangan kata, atau bahkan hanya satu kata per halaman sering kali lebih bermakna dibanding cerita panjang. Di usia ini, irama suara orang tua jauh lebih penting daripada alur cerita.   Beberapa orang tua memilih buku papan (board book) dengan kata-kata sederhana karena lebih tahan dibuka, ditutup, dan dipegang berulang kali oleh tangan kecil. ...

Doa

“Semoga kalian semua menjadi anak-anak yang berbakti kepada orang tua, berguna bagi nusa, bangsa dan agama”. Ini adalah sekelumit doa yang selalu saya dengar setiap upacara bendera senin pagi waku saya duduk dibangku SD dulu.

“Yuk kita sama-sama berdoa buat Bonnie, supaya dia jadi anak yang soleh dan punya masa depan yang cerah”. Kurang lebih, kalau saya tidak salah (kejadiannya sudah lama sekali), seperti itulah doa yang diucapkan oleh Uwa waktu acara selamatan sunatan teman saya, Bonnie, 24 tahun yang lalu.

Secara tidak sengaja, saya pernah dengar orang tua teman saya berdoa seperti ini, “Ya Tuhan, saya tidak ingin anak saya hanya seperti saya, saya ingin dia menjadi orang besar, bisa sekolah setinggi-tingginya dan sukses dalam pekerjaan” (sinetron banget yaa haha..).

Anehnya, saya belum pernah mendengar doa yang bunyinya seperti ini “mudah-mudahan saya/anak saya/cucu saya/kekasih saya menjadi orang yang bahagia”. Coba ingat-ingat deh, pernah ngga kita berdoa agar kita atau seseorang menjadi orang yang bahagia? Saya pribadi rasanya belum pernah. Belakangan ini, doa yang sering saya ucapkan tidak jauh dari minta ampunan atas dosa, minta dibukakan pintu rizki, minta didekatkan jodoh saya ;-) bisa membahagiakan orang tua saya, dan sebagainya. Seingat saya, saya belum pernah berdoa agar saya bisa jadi orang yang bahagia.

Kenapa ya? Apa karena kita sering beranggapan kalau kita sukses, punya karir yang menjanjikan, rumah dan mobil mewah lantas kita bahagia? Memang sih, setiap orang pasti mau dapet semua itu, kita ngga usah munafik deh.
Tapi kalau cuma itu yang kita jadikan parameter untuk mengukur kebahagiaan seseorang, apa ngga terlalu dangkal?

Misalnya gini, kita tinggal dirumah yang mewah banget, tapi cuma sendirian, ga ada orang lain (yaa kecuali pembantu sama tukang kebun deh), terus ga punya shoulder to cry on, apa nanti kita ga akan mati terbunuh sepi?

Jadi rasanya ga salah deh, kalau kita tambahkan item ‘jadi orang bahagia’ ditengah doa yang kita ucapkan selain item-item standar diatas.

Mudah-mudahan aja kita bisa benar-benar bahagia. Semoga yaa

Comments

Popular Posts