Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

SUDAH SELESAI

Hari ini sudah selesai.

Matahari yang tadi pagi terbit, kini tenggelam dan menyembunyikan terangnya di sebelah barat, perlahan-lahan.

Detak jarum jam, atau kelip jam digital, mengikuti hari yang kehilangan cahaya matahari.

Letih jiwa dan raga, merangkum hari yang sudah selesai.

 

Hari ini sudah selesai, tapi arus sungai tidak berhenti, terus mengalir mencari celah untuk sampai ke lautan dan bertemu buih di muara.

Hari sudah selesai, tapi kerja belum rampung, mimpi masih mencari cara untuk menjadi nyata. Haruskan ia tenggelam di sebelah barat karena letih jiwa raga, ataukah terus berjalan mengikuti aliran sungai dan melupakan letih yang semakin meraja? 


Hari sudah selesai, mimpi baru dimulai. 

 


Comments

Popular Posts