Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

"Dibuang Sayang, Dimadu Perang"

 "Dibuang sayang, dimadu perang". Kalimat di pantat bus tua jurusan Tangerang - Bogor berbunyi seperti itu. Dan kalimat konyol itulah akar dari adu argumen sengit di suatu pagi Sabtu cerah damai sentosa berangin ringan. 


Buat saya, kalimat bodoh itu penghinaan terhadap perempuan, terutama istri-istri yang telah dinikahi oleh pria-pria yang seyogyanya harus dicintai, dilindungi, dinafkahi lahir batin dan dinaungi sebagai makmum dalam rumah tangga. Terlebih, istri-istri tersebut adalah ibu dari anak-anak mereka, jika mereka dikarunia anak. Tapi soal anak ini hanyalah nilai plus, bonus. Bukan berarti jika mereka tidak mampu memberikan keturunan, lantas harus berkurang segala hak dan penghormatan yang sejatinya mereka dapatkan. 


Jelas ini soal poligami, di mana jelas sekali dalam agama Islam diperbolehkan. Yang tidak jelas adalah alasan mereka yang berlaku poligami tersebut. Sebagian (sangat besar) laki-laki menggunakan tameng agama untuk meligitimasi perilaku poligami mereka, mengambil keuntungan dari hukum agama yang tidak mereka gali secara dalam dan menyeluruh, untuk mensahkan sifat tidak puas dan nafsu manusiawi mereka. Pada akhirnya, ini hanya merupakan pelecehan terhadap agama dan keyakinan mereka sendiri. 


Dan buat saya pribadi, saya bukan penganut poligami (tentu saja bukan, karena saya perempuan). Saya penganut paham "Selesaikan dulu hubungan yang lama, sebelum memulai hubungan yang baru". Argumen sengitpun berakhir. 

Comments

Popular Posts