Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

Buku Catatan

Buku catatan itu penting, digital maupun tradisional. Sayangnya, saya jarang banget membuat catatan-catatan sepanjang perjalanan hidup saya. Saya punya buku catatan itu, saya isi dengan perasaan, ide, rencana atau mimpi-mimpi saya, atau momen-momen yang saya anggap istimewa dan saya takut akan hilang dalam ingatan saya kalau tidak dituliskan. Tapi tidak tergolong rajin mengisi buku catatan itu, seringnya terlupa, ya karena tidak terbiasa itu.

Kalau sedang iseng, saya suka buka tulisan-tulisan saya itu, kemudian teringatlah saya dengan kejadian-kejadian yang sudah terlupa, atau ide-ide yang sudah tidak pernah saya pikirkan lagi. Buku catatan bisa mengingatkan kita pada banyak hal, pada mimpi yang sepertinya sudah berdebu, teronggok begitu rupa di sudut kamar. Atau pada orang yang dulu pernah kita anggap spesial. Atau pada ide-ide yang menunggu untuk dijalankan dan mimpi-mimpi yang menggeliat minta dihidupkan.

Dua hari lalu, saya ada blind date. Saya pikir akan saya tuliskan dalam buku catatan saya, karena saya anggap kejadian itu cukup istimewa, we had a good time, talking and laughing. Tapi kemudian, berhenti begitu saja, tidak ada komunikasi lebih lanjut. Belum sempat saya menuliskannya dalam buku catatan saya. Mungkin dia atau kejadian itu, tidak cukup istimewa untuk mengisi buku catatan itu. 

Comments

Popular Posts