Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

Yeay Hujan!

Hujan. Saya suka hujan, saya suka aroma hujan. Saya suka ketika butiran-butiran air itu melepaskan diri dari awan yang jenuh uap air, dan kemudian menghapus debu di udara, jatuh di daun-daun, menimpa kaca jendela dan atap rumah dengan riuh rendah nyanyiannya. Dan nyanyian itu, nyanyian hujan itu, sungguh mampu menenangkan hati saya.

Semasa saya duduk di sekolah dasar, daerah tempat tinggal saya itu masih sangat kampung. Jarak dari rumah ke sekolah yang cukup jauh itu, saya tempuh dengan jalan kaki. Melewati sawah, kebun, sungai dengan aliran air yang cukup besar dan jalan tanah setapak. Waktu itu jarang sekali orang yang punya kendaraan bermotor. Dan ketika hari hujan, saya akan berjalan kaki ke sekolah dengan membawa sebilah daun pisang sebagai payung. Masih sangat jelas dalam ingatan, saya berseragam putih merah, menggendong tas punggung, bertelanjang kaki (sepatu dan kaus kaki saya simpan dalam tas) berpayung daun pisang. Tapi apabila hujan selepas sekolah, saya tidak akan susah payah berpayung apa pun, saya lebih suka pulang berhujan-hujan.

Dan setelah menjadi perempuan seutuhnya, ada satu scene yang selalu bermain di kepala saya ketika hujan turun. Saya duduk di sofa mungil dekat jendala kamar saya yang didominasi warna putih, dengan secangkir kopi, memandang derai hujan yang jatuh di kaca jendela kamar. Sungguh suatu kedamaian yang sempurna. 

Comments

Popular Posts