Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

Sama-sama TKI

Saya lagi belajar bahasa Melayu, dan berusaha banyak practice biar lancar bahasa tersebut, bukan apa-apa siy, supaya lebih nge-blend aja ama lingkungan kerja dan tempat tinggal.

Di setiap kesempatan, kalau memungkinkan, saya berusaha ngomong pake bahasa Melayu. Kek hari minggu lalu, setelah cape pusing-pusing di distrik Brickfield, daerah komunitas India di KL, saya ama salah seorang housemate saya mampir ke sebuah rumah makan untuk nyoba roti cane. Begitu dihampiri oleh sang pelayan restoran, dengan segenap kemampuan saya, saya pun langsung order makanan dengan menggunakan bahasa Melayu.

Setelah saya ngomong panjang lebar, nanya ini itu, sang pelayan pun bertanya sama saya, "Kakak ni orang mane?"

Saya bilang, "Saya dari Indo (Indonesia)." Dia pun lantas tersenyum dan bilang, "saya juga dari Indo, dari Lombok."

Yaah, ternyata sama-sama TKI, tau gitu saya gak perlu susah-susah ber-Malay-Malay.

Comments

Popular Posts