Skip to main content

Featured

Buku dan Anak Usia 1 Tahun: Tentang Kata, Waktu, dan Kehadiran

Di usia 1 tahun, anak belum mengenal huruf, belum memahami cerita, bahkan belum bisa duduk lama mendengarkan. Namun justru di usia inilah, buku memiliki makna yang sangat sederhana dan penting, yaitu kehadiran.   Buku bukan tentang membaca. Buku adalah tentang duduk bersama, membuka halaman perlahan, dan membiarkan kata-kata hadir lebih dulu di udara.   Kata yang Didengar, Bukan Dibaca   Anak usia 1 tahun mengenal dunia lewat suara. Ia menyerap nada, irama, dan pengulangan. Saat sebuah buku dibacakan, yang bekerja bukan hanya telinganya, tetapi juga rasa amannya.   Buku dengan kalimat pendek, pengulangan kata, atau bahkan hanya satu kata per halaman sering kali lebih bermakna dibanding cerita panjang. Di usia ini, irama suara orang tua jauh lebih penting daripada alur cerita.   Beberapa orang tua memilih buku papan (board book) dengan kata-kata sederhana karena lebih tahan dibuka, ditutup, dan dipegang berulang kali oleh tangan kecil. ...

Saya yang Bangkrut, Capek, Sendirian, dan Kehujanan

Aneh ya, kadang nasib buruk, mmmmm…bukan nasib buruk juga siy, apa namanya yaa? Ketidakberuntungan? Bad mood? Bukan juga. Pokoknya keadaan yang rasanya tidak berpihak kepada kita gitu deeh. Yaa hal seperti itulah, bisa datang bertubi-tubi, beruntun, dan menyerang pada saat yang bersamaan.

Jum’at ini misalnya, saya merasa bertubi-tubi diserang sama hal-hal yang menguji daya tahan saya. Ketika saya merasa ada pada titik hampa, titik kosong tanpa warna, merasa sendiri, merasa kehilangan (dari hari kamis perasaan itu muncul), hari jumat ini betul-betul diuji kesabaran saya. Dari sejak bangun tidur, saya merasakan migren yang amat sangat di bagian kanan kepala saya. Saya gak tau kenapa migren itu bisa muncul, bisa jadi karena malem sebelumnya saya begadang ngerampungin kerjaan (sampingan) saya sampe jam 2.30 dini hari. Tadi malem, malah saya gak sadar tertidur begitu aja, gak tau jam berapa, dengan tv, laptop, dan lampu kamar yang masih hidup sampe saya bangun pagi harinya. Atau bisa jadi migren saya itu muncul karena saya bener-bener bangkrut abis-abisan, tanpa sisa, dipenghujung minggu ini. Untungnya hari jumat, waktunya saya pulang ke rumah, ketemu sama keluarga saya. Hal ini cukup untuk membuat saya semangat ke kantor dan pingin buru-buru sore, bubar kantor dan ada di rumah.

Kerjaan yang seperti lingkaran setan yang gak putus-putus, bos yang suka kumat, gak juga bisa ngilangin perasaan kosong dan kehilangan saya itu. Tetap aja ada. Akhirnya sore yang saya tunggu-tunggu pun datang dengan kondisi di luar skenario saya. Begitu saya keluar kantor, gerimis dan sisa hujan masih terasa, saya cuma berharap hujan gak turun lagi, setidaknya sampe saya dapat kendaraan pulang. Tapi itu cuma harapan aja, belum lagi saya berhenti berdoa, hujan lebat dan angin kencang datang lagi. Payung yang saya pake, gak bisa melindungi saya dan barang-barang bawaan saya dari siraman hujan. Ditambah jalanan yang macet dan mulai banjir, kopaja yang penuh terus dan tas laptop saya yang berat banget. Saya nyesel mutusin milih naik kopaja daripada naik kereta. Dalam keadaan sakit kepala, sendirian, capek, bangkrut, dan kehujanan di pinggir jalan, akhirnya saya putusin balik ke kosan, gak jadi ke rumah. Dan begitulah, jumat malam yang seharusnya saya ada di rumah, ternyata saya masih di kamar kos saya, sendirian, dengan tv yang gak jelas acaranya, semangkuk oatmeal dan Aku Tak Mau Sendiri-nya BCL dari iTunes yang saya putar berulang-ulang.

Comments

Anonymous said…
its about time to find someone:)

Popular Posts