Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

kencan pertama

Yup, satu polesan lagi beres. Yaya menebalkan sedikit lipstick coklat muda lembut itu di bibirnya untuk menambah kesan sensual. Yaya bersyukur sekali, minggu lalu teman-temannya yang tukang paksa itu berhasil membuat dirinya setuju untuk mengikuti kelas kecantikan singkat yang diselenggarakan oleh salah satu produsen produk kecantikan yang lumayan terkenal. Tidak percuma dia mengeluarkan sejumlah uang dari koceknya yang seringkali prihatin di akhir bulan. Toh hasilnya tidak terlalu mengecawakan. Dia sekarang bisa membuat bibirnya (yang ia yakin merupakan bagian yang paling menarik di wajahnya) kelihatan jauh lebih seksi, menyapukan blush on di pipinya dengan arah yang benar, dan ia juga bisa memakai mascara tanpa harus mencolok matanya. Yaya menatap pantulan dirinya dalam cermin lady’s room di café kecil favoritnya itu dan tersenyum sumringah, ok, perfect!

“Semuanya memang harus sempurna malam ini, ini kencan pertama gue. Pangeran impian gue dateng jauh-jauh, jadi gue harus kelihatan sempurna dan gak ada satupun yang boleh merusak malem gue ini, bahkan bos gue yang kurang waras sekalipun!” Yaya menggumam sendiri.

“Ok jantung, gue ngerti lu memang harus tetap berdenyut, tapi gue mohon berdenyutlah dengan teratur, jangan berdebar gak menentu, gue gak mau salah tingkah, oke.” Yaya menarik kursi di meja teras café itu, ia sengaja memilih tempat di teras agar bisa menikmati view yang dijual café ini seutuhnya.

Yaya masih berusaha menjinakkan debar liar di dadanya, ketika suara empuk itu menyebut namanya.

“Yaya…you look gorgeous.” Ridho tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi (tidak terlalu rapi sih sebenarnya, satu gigi taringnya agak ke depan) sementara debar di dada Yaya semakin liar dan tak beraturan.

Ya Tuhan, terima kasih, akhirnya sosok itu datang juga, muncul nyata di hadapanku. Sekali lagi terima kasih Tuhan. Yaya membatin dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak melemparkan diri ke dalam pelukan lelaki itu.

Ridho meraih tangan Yaya, menggenggamnya lembut dan mesra. Tanpa suara, hanya mata yang bicara. Yaya merasakan getar hangat mengaliri setiap jengkal tubuhnya ketika tiba-tiba, kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggggg….!!! Yaya tergagap sesaat, sebelum berteriak sekuat tenaga “weekkkeerr sialaaaaaannn!!!” dan melemparkannya ke sudut kamar. Dari Musholla sebelah, adzan Subuh mulai berkumandang.

Comments

Popular Posts