Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

sendiri

Kadang manusia butuh waktu untuk sendiri, menghindar dari lingkungan sekitar bahkan menjauh dari orang-orang yang disayang. Saya pribadi, menikmati sekali saat saya menghabiskan waktu sendiri, tanpa siapa-siapa, melakukan hal-hal yang saya sukai sendiri, nonton film sendiri, makan sendiri, window shopping sendiri, keliling-keliling kota (Bogor favorit saya) sendiri, atau bahkan hanya berdiam diri sendiri didalam kamar saya. Dengan kesendirian itu, saya betul-betul merasa memberikan perhatian penuh pada diri saya. Bisa dibilang saya sangat menikmati saat-saat seperti itu.

Saya rasa, tidak apa-apa kita memanjakan diri sendiri dalam kesendirian. It’s not selfish to be alone, I suppose.

Comments

zuki said…
menulis di blog juga seperti 'membenamkan' diri pada sebidang tanah di belantara internet, sendirian, tenggelam di dalamnya.

selamat menikmati kesendirian ... :)
zuki said…
apa kabar, tetap semangat! :)
zuki said…
apa kabar? :)

Popular Posts