Rindu Pohon Mangga

Rindu tidak hanya bisa tercipta antara manusia dengan manusia lainnya. Rindu juga bisa muncul untuk hal lain, atau makhluk lain. Terhadap pohon misalnya. Ya, itu bisa saja terjadi. 


Seperti belakangan ini, saya rindu sekali dengan pohon mangga yang dulu tumbuh subur di depan rumah mungil saya. Tumbuh besar, tinggi dan rimbun tepat di bawah teras rumah tempat air hujan jatuh dari atap rumah. Membuat teras rumah terasa adem dan berangin. Walaupun sudah tumbuh tinggi dan besar, si pohon baru sekali belajar berbuah, hanya ada tiga buah mangga yang muncul di salah satu dahan besarnya. Itupun tidak sempat saya cicipi bagaimana rasanya, karena ketiga buah mangga itu membusuk di dahan dan kemudian jatuh dalam kondisi yang mengenaskan. Sama sekali tidak bisa dimakan, walaupun hanya sekedar untuk mencicipi rasanya seperti apa. 


Lalu kemudian, saya memutuskan untuk menebang pohon mangga itu. Baru terasa sekarang bahwa itu adalah keputusan yang salah. Kenapa pohon itu sampai ditebang? Apa karena dia belum bisa berbuah wajar, atau karena ukurannya yang besar terlihat tidak pas berdiri tegak di depan rumah kecil saya? Bukan, sama sekali bukan itu alasannya. Saya terima dengan ikhlas pohon itu belum masanya berbuah. Saya juga terima dengan ikhlas bahwa saya hanya mampu bertempat tinggal di rumah mungil. 


So, kenapa ditebang, yang akhirnya berujung penyesalan? Semata-mata karena seringkali dari pohon itu keluar getah yang sangat keras dan susah dibersihkan. Saya tidak tahu getah itu keluar dari mana, dari batang, daun atau bunga. Karena selalu ada getah yang keluar walaupun tidak ada bunga. Titik-titik getah itu jatuh dan menempel di mobil tua suami saya, sehingga menimbulkan bercak-bercak hitam yang sulit sekali dihilangkan. Sudah dicoba berkali-kali dibersihkan dengan menggunakan berbagai cara, menggunakan sabun, minyak, bensin, oli, minyak kayu putih, tetap masih tersisa noda-noda getah tersebut. 


Kemudian saya putuskan untuk menebang pohon mangga tersebut, agar getah-getahnya tidak lagi mengotori mobil suami saya. Ya, hanya itu alasannya. Sederhana, absurd dan kedengaran bodoh sekali. Pantas saja saya menyesal. 

Comments

Popular Posts