Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

JEDA

Pada satu titik di perjalanan, kita akan butuh jeda. Jeda dari pagi yang sama, malam yang biasa, nada yang sama, irama yang itu-itu saja.

Masing-masing dari kita butuh jeda dari rasa yang biasa ada, dari lelah yang kemarin, dari impian masa depan, dari cinta yang sering kali terasa dipaksakan.

Saya, kamu, butuh jeda. Kita butuh jeda dari beban yang ada di pundak kita berdua. Kita perlu jeda sesaat, dua saat, beberapa saat, untuk melihat kembali perjalanan yang sudah dimulai lebih dari 3 x 365 hari yang lalu.

Saya dan kamu perlu jeda, perlu titik di mana kita berhenti dan diam, tanpa memikirkan apa-apa, tanpa berucap apa-apa, tanpa saling menatap.

Kita perlu jeda. Itu saja. 

Comments

Popular Posts