Skip to main content

Featured

What Do We Live for?

What do we live for? I asked.  We may count the days from the day we were born to the day we take our last breath.  Some would carry the world upon their shoulder only to make sure others can take their breath.  So what do we live for? I asked. 

MENIKAH!!

MENIKAH!! Ya, menikah! Saya menikah. Tepat di usia saya yang ke 42, 6 Mei 2016, akhirnya saya menikah dengan laki-laki pilihan saya sendiri, walaupun pada awalnya Ibu saya tidak sepenuhnya menyetujui hubungan kami. Ini adalah prestasi luar biasa dalam sejarah hubungan saya dengan lawan jenis.

Lantas, apakah saya lebih bahagia setelah menikah? Merasa hidup saya lengkap setelah menikah? Kalau saat ini saya merasa lebih bahagia, kenapa saya sering kali merindukan masa-masa lajang saya selama 42 tahun? Kalau hidup saya sudah lengkap setelah menikah, lalu kenapa saya sering kali merasakan lubang kosong hitam menganga dalam dada saya? Kenapa saya seperti hidup di musim kemarau yang sudah enam bulan tidak turun hujan, kering dan gersang? Kalau memang betul saya merasa lebih bahagia dan hidup saya terasa lebih lengkap, lantas kenapa hari ini, di usia pernikahan saya yang baru satu setengah bulan, saya sudah kirim email ke biro konseling pernikahan untuk menanyakan biaya konseling? 

Comments

Popular Posts