Featured
Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...
- Get link
- X
- Other Apps
Sari?? Tari??
Waktu saya baru aja jadi penghuni baru di tempat kos saya sekarang ini, saya sudah memperkenalken diri kalo nama saya Sari, itu sekitar bulan November 2007 lalu. Entah vocal saya yang terlalu merdu atau pendengaran si mbak asisten pribadi Ibu kos saya yang bermasalah, nama saya yang Sari itu pun terdengar menjadi Tari di telinganya.
Sebenernya saya sudah berniat (beberapa kali malah) untuk meralat nama saya setiap kali si mbak yang baik hati itu nyebut nama saya, tapi entah kenapa kok saya gak tega terus ya mo bilangnya. Lagi pula saya pikir, Tari kedengaran lebih manis dari pada Sari. Akhirnya sampe sekarang, sudah sekitar delapan bulanan gitu, jadilah saya Tari, bukan Sari, buat si mbak itu.
Popular Posts
Buku dan Anak Usia 1 Tahun: Tentang Kata, Waktu, dan Kehadiran
- Get link
- X
- Other Apps
Comments