Tarik, Ulur, Tahan

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya saya bisa juga menaikkan layang-layang di minggu sore yang cerah dan berangin. Layangan kuning itu pun melenggak lenggok dan bergerak semakin ke atas tertiup angin, sementara saya berusaha mengendalikan geraknya, menarik, mengulur dan menahan benang layangan yang lumayan panjang. Senang rasanya ternyata saya masih memiliki kemahiran masa kecil saya.

Ketika layangan itu semakin meninggi dan gerakannya tidak terlalu liar lagi, saya mengambil posisi duduk bersila di pematang sawah yang kering. Sesekali saya menarik dan mengulur benang layangan, selebihnya hanya menahan agar layangan itu tetap terbang stabil.

Tarik – ulur. Saya jadi ingat pembicaraan dengan salah seorang rekan kantor di suatu sore ketika sebagian teman yang lain telah meninggalkan kantor. Intinya dia bilang, dia menjalani hubungan dengan pacarnya dengan metode tarik ulur. Dia memberikan kebebasan buat sang pacar, namun juga dia mengendalikan kebebasan itu. Paling tidak, dia harus mengetahui kegiatan dan keberadaan sang pacar. Satu lagi dia bilang, jangan sepenuhnya percaya dan memberikan cinta seutuhnya kepada laki-laki, cukup 75% saja. Karena yang namanya laki-laki, merupakan mahluk yang paling sulit untuk dipercaya. Laki-laki sulit dipercaya, saya tahu itu, tapi mengatur dan mengukur persentase cinta saya pada seseorang (laki-laki), saya benar-benar tidak tahu bagaimana caranya. Karena ketika saya jatuh cinta dengan seseorang, ya cuma cinta yang saya rasakan, tanpa pernah bisa menakar perasaan saya itu dan kemudian menghentikan perasaan itu pada level tertentu. Yang saya berikan, sebanyak yang saya rasakan.

Sebagian otak saya masih sibuk mencerna philosophy layangan dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis (kebetulan saya bukan pencinta sesama jenis), ketika tiba-tiba keponakan saya yang belum lagi genap enam tahun berteriak, “awas nte, layangan biru itu ndeketin!” Sontak saya berdiri dan menarik benang layangan dalam genggaman saya.

“Awas nte, layangannya mau diadu!” teriak keponakan saya lagi. Saya pun siap-siap mengendalikan layangan saya yang sekarang sudah benar-benar bertarung di udara.

“Tarik aja terus nte, biar putus layangan dia!” Dengan dikomandoi oleh keponakan saya yang sok tahu itu, saya terus menarik dan sesekali mengulurkan benang layangan.

Setelah beberapa saat mengadu kekuatan, saya harus mengakui kehebatan lawan. Layangan kuning saya putus dan melenggang bebas di udara. Layangan putih bergaris biru itu, tanpa saya tahu siapa pemiliknya, telah mengeksekusi keasikan saya bercengkrama dengan angin sore.

Angin terus berbisik, matahari semakin condong ke barat. Saya menggulung sisa benang layangan yang ujungnya masih tersangkut di antara daun pohon rambutan. Teriakan ibu saya ketika saya kecil dulu seperti terdengar kembali di telinga saya, “Deee pulang udah soreee, sebentar lagi maghrib!”

Ps. Ridho bukan layangan ^__^

Comments

Popular Posts