Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

some kind of people


Saya tau dan yakin banget bahwa di setiap tempat pasti ada tipe-tipe ass kisser, suka cari muka, yang penting “save my ass first” atau mungkin tipe yang suka gede-gedein masalah, yang seyogyanya masalah itu ada dalam status “aman”, statusnya bisa berubah jadi “waspada” atau bahkan mungkin “awas”. Capek sih memang ngadepin orang seperti itu, sialnya lagi kalau kita gak hati-hati, bisa-bisa kita yang jadi korban demi menyelamatkan kepentingannya sendiri. Mau menghindar juga gak bisa karena tuntutan pekerjaan. Seperti yang saya bilang tadi, disetiap tempat pasti deh ada tipe kayak gini meskipun dalam perwujudan yang beda.

Setiap orang pasti pingin punya kredit point yang bagus, tapi mbok ya jangan dengan jalan mendiskreditkan orang lain dunk!

Comments

Popular Posts