Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

Sang Jiwa Telah Mati

Hari ini, sang jiwa telah mati. Ssst, dia memutuskan untuk mati!
Yaa, setelah perjalanan panjang melewati lorong waktu yang gelap,
melewati bukit-bukit gersang dan padang ilalang.
Hari ini, tepat tigapuluh dua tahun yang lalu sang Jiwa memulai pencariannya, perburuan hatinya.
Dialog-dialog panjang yang dilakukannya dengan bintang, tidak juga memberikan pemahaman yang mendalam tentang pencarian jiwanya.
Pernah pada suatu kesempatan, dia bertutur pada langit
Bahwa jauh sebelum jiwanya dilahirkan, bumi telah menyembunyikan teman jiwanya yang kemudian dicarinya didasar samudera, diantara butiran pasir gurun, dibelantara hutan dan didalam tubuh-tubuh yang berkeliaran.
Dan sang jiwa pada akhirnya, membiarkan takdir membawanya pada perjalanan tanpa ujung, berada dalam lingkaran lelah dan keinginan untuk jatuh cinta yang kemudian mati begitu saja.
Sampai akhirnya sang jiwa bertanya, apakah benar ada dibumi ini tempatnya untuk jatuh dan dijatuhi cinta? Atau itu hanya merupakan garis imajiner yang ia ciptakan sendiri?
Sampai kematiannya, sang jiwa tidak pernah menemukan baik jawaban atas pertanyaannya, atau teman jiwanya ataupun akhir dari perjalanannya.

Comments

Popular Posts