Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

sepatu baruku

Di dalam bis, saya menatap sepatu baru saya dengan takjub. Tidak manis, tidak keperempuan-perempuanan, tapi sangat nyaman. Yup, nyaman sekali. Tanpa hak tinggi, yang bikin nyeri kaki (well, I'm not high heels type)Nyangkrem-nya (Sorry, I couldn't find the most suitable term for this word in Bahasa or English) pas banget di kaki saya. Enak dibawa lari apalagi jalan. Sudah terbukti tadi waktu saya ngejar bis ini di depan halte Tosari.

But..tunggu dulu, keknya ada yang kurang deh. Ya ya kaos kaki, saya lupa pake kaos kaki. I should wear socks! Besok mesti pake kaos kaki nih.

Comments

Tatz Sutrisno said…
nyangkrem = membalut..mememeluk ?? analogi...hehehe....
gak penting niy comment gua

Popular Posts