Skip to main content

Featured

Suatu Titik Bernama Stasiun Cilebut

  Menjelang malam, Stasiun Cilebut memasuki jeda yang hanya berlangsung sekejap. Langit perlahan kehilangan warna birunya, sementara lampu-lampu peron mulai mengambil alih tugas matahari. Kereta masih datang dan berangkat sesuai irama yang telah dihafal rel-rel tua, mengantar orang-orang pulang, mempertemukan sebagian, dan meninggalkan sebagian yang lain dalam penantian. Di atasnya, bulan muncul tanpa tergesa. Bukan bulan yang bulat utuh, melainkan lengkung cahaya yang belum sempurna. Ia menggantung rendah di langit stasiun, seolah ikut menyaksikan setiap pintu gerbong yang terbuka, setiap langkah yang bergegas, dan setiap lambaian yang perlahan menghilang bersama suara peluit keberangkatan. Ketidaksempurnaannya justru membuat malam terasa lebih jujur. Sebab tak ada yang benar-benar utuh di tempat yang bernama stasiun. Selalu ada pertemuan yang dibatasi waktu, perpisahan yang ditunda, harapan yang masih menunggu kereta berikutnya, dan mimpi yang sedang menempuh perjalanan menuju tu...

suara itu

PULANG kerja hari Jumat kemarin, di bilangan Sudirman yang muacet dan dalam bus yang lumayan penuh, tiba-tiba konsentrasi saya untuk tidur buyar oleh nada dering ponsel milik penumpang yang duduk tepat di belakang saya. Sebentar cuma, selanjutnya digantikan oleh suara mendesah manja, syahdu, sendu mendayu (lebih mirip suara orang bangun tidur plus kebelet, sorry, pup, kalo saya bilang sih) milik si empunya ponsel.

“hhhaloooo….”
(jeda)
“hhakuu mhassiihh dhi bhiss..”
(jeda)
“hhiyyaa…hhakuu ngghhaak nhaikh bhuswhayy…nhaikh phathass hasee..”
(jeda)
“khasian yah haku jham sghini mhasshih dhi jhalan..shiapha yhang chewe shiapha yhang chowo hini..”
(jeda)
“hhiyyaa..hhiyyaa..hhakuu yhang shalahh..hakuu lhuphaa khalho jham shegithuu khamhu phasti mhasshiih dhi lhaphangan bhasket..”
(jeda)
“hyaa hudhaah hyaa hhakuu hyaangg thelphon bhalik hyaa shayaang”
(jeda, kali ini agak lama. Mudah-mudahan gak bisa nyambung hihi…)
“hyaa shayhang..”
(jeda. Nyambung juga)
“shekharang khamu udhaahh dhi rhumahh bhelum?”
(jeda)
“htherus hudhahh mhandhi bhelhum?”
(jeda)
“hyaa khamu khan thau ghimhanha kherjhaan hakhu shayhang, thadi shiang haja hakhu ghak shemphet khelhuar phas jham mhakhan shiang”
(jeda)
“hemhang khamhu mhau phulang khaphan shayhang?”
(jeda)
“hyaa hudhahh hnanthi hakhu jhemphut dhi bhandhara yha shayhang, bhiar haku bhawa mobhil, hakhu kherjha shethengah hariy dheh shayang, therus lhangshung khe bhandhara jhemput khamu, ghimhanha?”
(jeda)
“gha pha-pha shayhang, athaw khamu nhaik Dhamrhi dhulhu shampheBlokh hM, therus hakhu jhemphutnya dhi shana”
(jeda)
“hakkhu ghak thau bherapha nhaik Dhamrhi, hakhu ghak phernah nhaik Dhamri khalho khe bhandhara, nhaik mhobhil therus”
(jeda. Damri itu mobil juga khan!?)
“hooo hyaa hudhahh khalho ghithuu..hakhu jhemphut dhi shana haja shayang”
(jeda)
“hyaa khamhu hathi-hathi yaah shayhaang..nhanthi shamphe rumhah hakhuu thelphon khamu lhaghi”

Iiiihh gerah deh denger nya :p

Comments

Anonymous said…
salam kenal mbak Sari... wah mbak Sari ternyata berbakat juga ya jadi 'pengamat lingkungan' :) Sukses selalu ya mbak..
.:nien:. said…
terima kasih sudah mampir di tempat saya, ibu.

postingan nya menarik.
Anonymous said…
huakakakakakak.. lucu--lucu.. hehehe..

Popular Posts