Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2005

Gambir sore itu

Seperti biasa, sore di Gambir selalu pengap, sesak, gerah dan bau keringat. Rengekan bocah, celoteh kaum komuter, lalu lalang orang dengan langkah tergesa, antrian panjang diloket tiket terlebih lagi pada hari jumat sore (loket tiket kereta ke Bandung selalu punya daftar antrian yang paling panjang), belum lagi announcer dengan suara pecah yang, demi Tuhan, sama sekali ngga merdu . Yaah, begitulah sore di Gambir. Selalu seperti itu. Tapi ada suatu saat dimana Gambir tidak hanya seperti itu, dimana Gambir agak berbeda, lebih berwarna, lebih bergairah, biarpun lelah tetap membungkus sebagian besar kaum urban yang lebih memilih untuk bertempat tinggal didaerah-daerah penyangga Jakarta. Ketika sore di Gambir terasa lebih jingga, ketika penjaga peron terasa lebih ramah, ketika suara announcer tiba-tiba penuh dengan harmonisasi nada. Ketika itu, duduk diatas koran didalam kereta terasa jauh lebih nyaman ketimbang duduk diatas kursi kerja dikantor, suara riuh rendah penumpang seperti musik y…

dan aku pun menyerah pada sepi

Diam.
Kosong.
Hampa.
Menusuk.
Tanpa suara.
Tanpa arah.
Tanpa mimpi.
Tersudut pada gelap.
Terhempas pada pengap.
Tergeletak tanpa bentuk.
Dan perlahan, aku pun terbunuh oleh sepi, berulang kali.

Aah..jatuh cinta ;)

Tadi malam ada teman yang menelepon saya. Belum selesai saya mengucapkan ‘halooo’ dia sudah menodong saya dengan ucapan ‘Sar, lo mesti nolong gue!’ (sopan banget, yaa). Masalah apa sih yang bikin dia panik kaya gitu? Biasanya dia nelpon saya paling untuk ngomongin kerjaan dia, tanya kabar saya, gimana kerjaan saya, gimana kehidupan sosial dan pribadi saya (yang terakhir betul-betul bukan topik yang menarik). Obrolan-obrolan yang ringan dan tidak pernah dimulai dengan todongan seperti itu.

Malam itu kemudian, selama hampir satu jam kedepan, jadilah saya listener dan adviser buat teman saya itu, sebut saja namanya Bimo, yang ternyata sedang ..hmmm..jatuh cinta. Isn’t that sweet? :)



Saya tidak menyangka, orang yang sangat rasional seperti Bimo (seringkali agak menyebalkan karena terlalu rasionalnya sampai-sampai sering mengabaikan kata hati), dengan dua gelar kesarjanaan dari PTN dan PTS terkemuka, karir yang menjanjikan disebuah perusahaan otomotif yang juga terkemuka, bisa kelimpungan s…

Doa

“Semoga kalian semua menjadi anak-anak yang berbakti kepada orang tua, berguna bagi nusa, bangsa dan agama”. Ini adalah sekelumit doa yang selalu saya dengar setiap upacara bendera senin pagi waku saya duduk dibangku SD dulu.

“Yuk kita sama-sama berdoa buat Bonnie, supaya dia jadi anak yang soleh dan punya masa depan yang cerah”. Kurang lebih, kalau saya tidak salah (kejadiannya sudah lama sekali), seperti itulah doa yang diucapkan oleh Uwa waktu acara selamatan sunatan teman saya, Bonnie, 24 tahun yang lalu.

Secara tidak sengaja, saya pernah dengar orang tua teman saya berdoa seperti ini, “Ya Tuhan, saya tidak ingin anak saya hanya seperti saya, saya ingin dia menjadi orang besar, bisa sekolah setinggi-tingginya dan sukses dalam pekerjaan” (sinetron banget yaa haha..).

Anehnya, saya belum pernah mendengar doa yang bunyinya seperti ini “mudah-mudahan saya/anak saya/cucu saya/kekasih saya menjadi orang yang bahagia”. Coba ingat-ingat deh, pernah ngga kita berdoa agar kita atau seseoran…