Skip to main content

Featured

Buku dan Anak Usia 1 Tahun: Tentang Kata, Waktu, dan Kehadiran

Di usia 1 tahun, anak belum mengenal huruf, belum memahami cerita, bahkan belum bisa duduk lama mendengarkan. Namun justru di usia inilah, buku memiliki makna yang sangat sederhana dan penting, yaitu kehadiran.   Buku bukan tentang membaca. Buku adalah tentang duduk bersama, membuka halaman perlahan, dan membiarkan kata-kata hadir lebih dulu di udara.   Kata yang Didengar, Bukan Dibaca   Anak usia 1 tahun mengenal dunia lewat suara. Ia menyerap nada, irama, dan pengulangan. Saat sebuah buku dibacakan, yang bekerja bukan hanya telinganya, tetapi juga rasa amannya.   Buku dengan kalimat pendek, pengulangan kata, atau bahkan hanya satu kata per halaman sering kali lebih bermakna dibanding cerita panjang. Di usia ini, irama suara orang tua jauh lebih penting daripada alur cerita.   Beberapa orang tua memilih buku papan (board book) dengan kata-kata sederhana karena lebih tahan dibuka, ditutup, dan dipegang berulang kali oleh tangan kecil. ...

high heels

Ini sama sekali ga ada hubungannya sama film “Me Vs High Heels” yang ga pernah saya tonton itu kok. Jadi? Iya, pas long weekend kemarin, saya ga ada acara kemana-mana, well..ada sih, malem minggunya saya jalan, makan diluar sama si mas ndhut. Mau nonton tapi udah keburu telat, jadilah kita cuma makan, keliling-keliling sekitar Cinere. Abis itu, makan lagi deh (what a great combination, sama-sama doyan makan heuhe..).

Image hosting by Photobucket


Terus apa hubungannya donk sama high heels!? Ga ada! Itu tadi cuma prolog yang sengaja saya buat ga nyambung :p. Gini, salah satu sepatu saya, yang sebelah kiri alas haknya lepas, ga tau dimana. Saya udah nunggu beberapa hari, tapi ga ada tukang sol yang lewat depan rumah saya. Akhirnya, pas saya perhatiin baik-baik, rasanya saya bisa kok ngerjain sendiri. Saya cuma butuh paku kecil (kecil banget), palu, lem, sama karet (atau plastik yaa?) yang agak tebal, yang saya copot dari sepatu yang udah ga saya pake lagi. Setelah diukur, saya potong sesuai dengan hak yang lepas itu, terus saya lem pake lem pipa. Kok!? Abis dirumah ga ada lem aibon yang biasa dipake untuk ngelem sepatu atau sandal, adanya cuma lem pipa, jadi saya pake aja lem itu, ternyata nempel kok. Setelah nempel, biar kuat saya paku deh. Cuma namanya juga atukang sol amatir, jadi hasilnya yaa ga terlalu bagus. Terus pakenya juga kayanya agak kegedean dan ga pas nancepnya. Mau tau hasil akhirnya? Sepatu saya bisa saya pake lagi, tapi dengan tambahan bunyi tok..tok..tok yang lebih nyaring heuhe…

*Moral of the story: Daripada nunggu tukang sol yang ga pasti datengnya, kalo bisa kerjain aja sendiri, itung-itung nambah keahlian baru ^_˜

Comments

zuki said…
jadi ... makan apa sih? hehehe ... nggak nyambung ... apa kabar nih, udah lama nggak mampir .. :)

Popular Posts