Skip to main content

Featured

Buku dan Anak Usia 1 Tahun: Tentang Kata, Waktu, dan Kehadiran

Di usia 1 tahun, anak belum mengenal huruf, belum memahami cerita, bahkan belum bisa duduk lama mendengarkan. Namun justru di usia inilah, buku memiliki makna yang sangat sederhana dan penting, yaitu kehadiran.   Buku bukan tentang membaca. Buku adalah tentang duduk bersama, membuka halaman perlahan, dan membiarkan kata-kata hadir lebih dulu di udara.   Kata yang Didengar, Bukan Dibaca   Anak usia 1 tahun mengenal dunia lewat suara. Ia menyerap nada, irama, dan pengulangan. Saat sebuah buku dibacakan, yang bekerja bukan hanya telinganya, tetapi juga rasa amannya.   Buku dengan kalimat pendek, pengulangan kata, atau bahkan hanya satu kata per halaman sering kali lebih bermakna dibanding cerita panjang. Di usia ini, irama suara orang tua jauh lebih penting daripada alur cerita.   Beberapa orang tua memilih buku papan (board book) dengan kata-kata sederhana karena lebih tahan dibuka, ditutup, dan dipegang berulang kali oleh tangan kecil. ...

Ada tapi tidak ada

(Pagi yang tidak terlalu biru)

Setiap kita pasti berada dalam satu komunitas, keluarga atau teman, atau kelompok yang lain, berinteraksi setiap hari dengan mereka. Kita merasa bahwa kita adalah bagian dari mereka dengan segala hak dan kewajiban yang melekat sebagai anggota komunitas tersebut. Kita juga merasa bahwa kita berbagi banyak hal dengan mereka. Tapi sebenernya seberapa jauh sih kita terlibat dengan mereka? seberapa dalam sih kita memahami permasalahan anggota lain didalam komunitas kita itu? Karena saya pribadi sering kali merasa bahwa ternyata saya ga terlalu tahu dengan masalah yang sedang dihadapi lingkungan saya, seringkali saya merasa tertinggal akan isu yang berkembang didalam lingkungan saya sendiri atau merasa bahwa keluarga atau teman-teman saya ga terlalu tahu apa yang sedang saya hadapi. Seringkali saya berpikir, mungkin saya ga punya sikap toleran yang tinggi ke mereka, atau mungkin tingkat keperdulian saya sangat rendah dan terlalu asik dengan urusan sendiri. Atau bisa jadi mereka juga yang ga terlalu peka dengan kondisi saya. Mungkin ini suatu fenomena menumpulnya sensitifitas didalam diri kita sebagai makhluk sosial. Saya juga kurang tahu sih, yang jelas pada saat saya menyadari hal tersebut saya jadi sedih, saya merasa menjadi tidak terlalu berharga untuk mereka karena saya ternyata belum cukup berbuat banyak untuk orang-orang disekitar saya.

Seringkali kita merasa ada, tapi sebetulnya tidak benar-benar ada.

Comments

Popular Posts