Skip to main content

Posts

Pada Langit

Mari bicara pada langit. Tentang tingginya harapan dan cita-cita yang digantungkan padanya tanpa tiang.
Mari meminta pada langit, gemericik hujan yang meninabobokan.
Mari dengarkan cerita langit, yang menyimpan rahasia setiap jaman.
Recent posts

Brawijaya Hospital

Kemarin, saya membawa keponakan saya yang berumur 6 tahun ke Brawijaya Hospital, Bojongsari Baru, lantaran dia muntah-muntah setelah makan makanan di tukang jajanan di sekolahnya (please please please, jajanan anak-anak betul-betul harus diawasi).

Di mana Bojongsari Baru? Salah satu kelurahan di wilayah Depok, Jawa Barat. Dulu, duluuuu sekali, Bojongsari kampung yang sangat nyaman, asri, sepi, dan tenang. Malam hari hanya ada suara jangkrik. Sawah dan kebun masih banyak. Tapi sekarang, semua ketenangan sudah menguap entah ke mana. Sawah, lapangan, kebun, sudah berubah semua menjadi komplek perumahan. Resto waralaba fast food ada di setiap pojok, di sepanjang jalan. Supermarket lokal dan internasional berjejer sebelah menyebelah. Malah sekarang sedang dibangun mall. Oemji.

Nah Brawijiaya Hospital, salah satu fasilitas baru yang menjamur di kampung saya itu. Yang ingin saya ceritakan bahwa, saya memperoleh pengalaman yang luar biasa beda dari rumah sakit-rumah sakit atau klinik-klinik …

Kita Manusia

Kita manusia. Mau jadi manusia seperti apa kita? Semua terpulang pada pilihan masing-masing. Dan pilihan saya, saya memilih untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap diri dan hidup saya, kemudian dapat membantu orang-orang di sekitar saya, terutama keluarga besar yang saya dahulukan, orang-orang yang saya cintai.

Tidak ada keinginan yang lebih besar dalam diri saya selain melihat mereka, terutama keponakan-keponakan (baca "anak-anak"), untuk menjalani hidup yang baik dan penuh kelayakan. Maka, saya meletakkan tanggung jawab untuk membantu mereka mendapatkan hidup dengan kelayakan itu di pundak saya. Membantu memberikan bekal untuk mereka melangkah di kemudian hari.

Sampai pada titik ini, saya mendapati bahwa kebahagiaan sejati diperoleh hanya dengan berbagi. Mari berbagi, karena kita manusia.

JEDA

Pada satu titik di perjalanan, kita akan butuh jeda. Jeda dari pagi yang sama, malam yang biasa, nada yang sama, irama yang itu-itu saja.

Masing-masing dari kita butuh jeda dari rasa yang biasa ada, dari lelah yang kemarin, dari impian masa depan, dari cinta yang sering kali terasa dipaksakan.

Saya, kamu, butuh jeda. Kita butuh jeda dari beban yang ada di pundak kita berdua. Kita perlu jeda sesaat, dua saat, beberapa saat, untuk melihat kembali perjalanan yang sudah dimulai lebih dari 3 x 365 hari yang lalu.

Saya dan kamu perlu jeda, perlu titik di mana kita berhenti dan diam, tanpa memikirkan apa-apa, tanpa berucap apa-apa, tanpa saling menatap.

Kita perlu jeda. Itu saja.

Hai masa lalu

Hai masa lalu, apa kabarmu sekarang? Sudah sejauh mana kamu melangkah? Ke arah mana engkau menuju? 

Hai masa lalu, mari kita bicara tentang diriku. Sudah jauh sekali aku melangkah, sesekali aku menoleh ke belakang, ke arahmu. Mengenangmu, mengenang bagaimana kita dulu. Menyatu di suatu waktu, sampai saatnya aku harus melepaskanmu. Bukan, bukan karena aku tidak mencintai atau menginginkanmu. Sedemikian besar keinginanku untuk membawamu sepanjang langkahku, sepanjang perjalanan yang aku lalui. Tapi kamu menolak keinginanku, kamu menorehkan kecewa yang tidak sedikit. Ada juga malu dan marah yang sulit untuk dihindari. Cukup manusiawi aku rasa. 

Hai masa lalu, mari kita bicara lagi tentang diriku. Maaf jika terdengar egois. Kadang aku menoleh ke arahmu, sering malah. Untuk belajar dari apa yang telah berlaku. Menempa diri dan hati agar lebih matang dan bijaksana melangkah ke depan. 

Hai masa lalu, pada akhirnya aku ingin berterima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan hidupku, telah mem…