Skip to main content

Posts

Tahu dan Susu Kedelai

Hari ini saya belajar satu hal dari sekolah kehidupan, bahwa berbagi tidak perlu menunggu sampai kita kaya dan berlebih. 
Hampir setiap pagi, saya membeli dua gelas susu kedelai dari penjual tahu dan susu kedelai yang selalu masuk komplek perumahan tempat saya tinggal. Kadang suka bosan juga, tapi saya usahakan tetap membeli minimal dua gelas susu kedelai, atau salah satu barang dagangan yang beliau bawa. Selain tahu dan susu kedelai, beliau juga suka membawa pepaya dan pisang. 
Ketika tadi pagi saya membeli susu kedelai seperti biasa, saya lihat beliau membawa pepaya dan pisang beberapa sisir. Selain susu kedelai, saya putuskan untuk membeli pepaya dan bertanya juga berapa harga pisang satu sisir. Kemudian beliau bilang, "Ngga apa-apa Ibu, kalau Ibu mau, ambil saja pisangnya, Ibu bayar untuk pepaya dan susu saja". 
Awalnya saya berkeras untuk membayar pisang, saya tidak mau merugikan bapak itu, tapi beliau tetap tidak mau menerimanya, "Ngga apa-apa Ibu, betul, Ibu baw…
Recent posts

Pada Langit

Mari bicara pada langit. Tentang tingginya harapan dan cita-cita yang digantungkan padanya tanpa tiang.
Mari meminta pada langit, gemericik hujan yang meninabobokan.
Mari dengarkan cerita langit, yang menyimpan rahasia setiap jaman.

Brawijaya Hospital

Kemarin, saya membawa keponakan saya yang berumur 6 tahun ke Brawijaya Hospital, Bojongsari Baru, lantaran dia muntah-muntah setelah makan makanan di tukang jajanan di sekolahnya (please please please, jajanan anak-anak betul-betul harus diawasi).

Di mana Bojongsari Baru? Salah satu kelurahan di wilayah Depok, Jawa Barat. Dulu, duluuuu sekali, Bojongsari kampung yang sangat nyaman, asri, sepi, dan tenang. Malam hari hanya ada suara jangkrik. Sawah dan kebun masih banyak. Tapi sekarang, semua ketenangan sudah menguap entah ke mana. Sawah, lapangan, kebun, sudah berubah semua menjadi komplek perumahan. Resto waralaba fast food ada di setiap pojok, di sepanjang jalan. Supermarket lokal dan internasional berjejer sebelah menyebelah. Malah sekarang sedang dibangun mall. Oemji.

Nah Brawijiaya Hospital, salah satu fasilitas baru yang menjamur di kampung saya itu. Yang ingin saya ceritakan bahwa, saya memperoleh pengalaman yang luar biasa beda dari rumah sakit-rumah sakit atau klinik-klinik …

Kita Manusia

Kita manusia. Mau jadi manusia seperti apa kita? Semua terpulang pada pilihan masing-masing. Dan pilihan saya, saya memilih untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap diri dan hidup saya, kemudian dapat membantu orang-orang di sekitar saya, terutama keluarga besar yang saya dahulukan, orang-orang yang saya cintai.

Tidak ada keinginan yang lebih besar dalam diri saya selain melihat mereka, terutama keponakan-keponakan (baca "anak-anak"), untuk menjalani hidup yang baik dan penuh kelayakan. Maka, saya meletakkan tanggung jawab untuk membantu mereka mendapatkan hidup dengan kelayakan itu di pundak saya. Membantu memberikan bekal untuk mereka melangkah di kemudian hari.

Sampai pada titik ini, saya mendapati bahwa kebahagiaan sejati diperoleh hanya dengan berbagi. Mari berbagi, karena kita manusia.

JEDA

Pada satu titik di perjalanan, kita akan butuh jeda. Jeda dari pagi yang sama, malam yang biasa, nada yang sama, irama yang itu-itu saja.

Masing-masing dari kita butuh jeda dari rasa yang biasa ada, dari lelah yang kemarin, dari impian masa depan, dari cinta yang sering kali terasa dipaksakan.

Saya, kamu, butuh jeda. Kita butuh jeda dari beban yang ada di pundak kita berdua. Kita perlu jeda sesaat, dua saat, beberapa saat, untuk melihat kembali perjalanan yang sudah dimulai lebih dari 3 x 365 hari yang lalu.

Saya dan kamu perlu jeda, perlu titik di mana kita berhenti dan diam, tanpa memikirkan apa-apa, tanpa berucap apa-apa, tanpa saling menatap.

Kita perlu jeda. Itu saja.