Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2015

Negeri Sejuta Senja

Di negeri sejuta senja, matahari tak pernah berhenti menyala, gagah dan garang. Bertengger tanpa lawan. Kita tak perlu menunggu, karena kehadirannya selalu tepat waktu. Di setiap pagi, setelah melewati sepertiga malam yang paling sunyi mematikan, semburat merahnya dipastikan akan datang. Ia menyaksikan cinta yang tumbuh utuh atau mendua, hubungan yang tangguh atau yang kemudian secara perlahan runtuh, atau pun dengan tiba-tiba. 

Di negeri sejuta senja, tidak ada batas mimpi. Namun mimpi juga bisa mati dalam genggaman, teronggok di tepi jalan atau di sudut kamar, seperti juga cinta yang bisa mati bahkan sebelum tumbuh. 

Tapi kita, kita hanya perlu percaya bahwa suatu saat keadaan akan membaik, mimpi bisa hidup lagi dan terbang tinggi, karena memang ia tidak berbatas. Begitu juga cinta, dia akan datang tanpa suara, seperti berasal dari ruang hampa. Sungguh kita hanya perlu percaya, karena di negeri sejuta senja, senja tidak pernah kehilangan jingganya, matahari selalu bertengger gagah dan…

Selamat malam kematian

Selamat malam kematian. Suatu saat, cepat atau lambat, engkau akan berdiri di muka pintu dan mengetuk tanpa ragu. Merengkuh jiwa yang pasrah, memaksa jiwa yang memberontak, menyeringai pada jiwa yang ketakutan setengah mati, membelai jiwa yang tak sempat memahami hidup. Selamat malam kematian, datanglah kapanpun engkau sempat, karena tak satu pun jiwa yang mampu menolak.Selamat malam kematian. (Aku takut menghadapimu. Pelan, nyaris tanpa suara, jiwaku berbisik).

Mimpi yang mati

Mimpiku telah mati.
Mimpiku tentang cinta telah mati.
Mimpiku tentang hidup telah mati.
Mimpiku tentang mimpi telah mati.
Bahkan mimpiku tentang kematianpun telah mati.Aku terpuruk di sini tak lagi berani bermimpi. Dan hidup tanpa mimpi adalah mati.

Deja vu

Ini deja vu banget. Hal yang sama terulang lagi, persis sama. Saya sudah mengalami hal ini sebelumnya, berada di posisi yang sama, merasakan hal yang sama, dan berjuang untuk hal yang sama. benar-benar deja vu! 

Ini karma atau apa ya? Berkali-kali terjadinya. Saya benar-benar berpikir untuk menyudahi semuanya, berhenti untuk memperjuangkan apapun dalam hidup saya. Berhenti. Full stop. Titik.

Rejected!

Mengalami berkali-kali penolakan dari orang yang berbeda, betul-betul memberikan efek negatif terhadap kepercayaan diri saya. Saya merasa tidak cukup baik untuk siapapun, tidak dikehendaki oleh siapapun.Apa yang salah dalam diri saya? Pertanyaan itupun kembali bermain di kepala saya. #seninyanghujan

Kopitiam Pak Lim

Saya sedang menikmati kesendirian saya. Teh tarik dan rokok mentol (I'm not proud of it), having me time, perhaps. Saya berusaha merasa bahagia dan tidak merasa kesepian di kesendirian saya.

Kopi Tubruk

Belakangan, saya menghindari kopi campur sachet (kopi instan), baik itu kopi hitam atau pun putih. Saya beralih ke kopi tradisional, kopi tubruk hitam, kental plus sedikit gula. Jadi kopi saya cenderung pahit. Dulu, pilihan saya selalu kopi instan sachet tanpa ampas. Preferensi ini kemudian berubah, setelah suatu sore saya bertemu salah satu klien, seorang pencinta kopi dan pemilik coffee shop di bilangan Pluit. Sambil menikmati espressonya, dia bercerita banyak tentang kopi. Bagaimana espresso dan latte yang sedang kami nikmati sampai ke penikmat kopi. Saya tertegun ketika lelaki muda berwajah oriental ini bilang, kalau kopi sachet campur yang rutin saya minum itu ternyata bukan kopi, melainkan sari kopi, esen kopi. Menurutnya, setelah kita minum kopi, dan kemudian air seni yang kita keluarkan berbau sama persis dengan aroma kopi yang kita minum, bisa dipastikan bahwa itu bukan kopi asli, hanya sari kopi. Kopi asli tidak akan menyebabkan air seni kita berbau kopi.Sejak sore itu, saya…

Konyolnya Sepi

Ah konyol sekali rasa sepi ini. Menggigit, seperti udara di luar yang belakangan lebih sering berangin, berawan, dan kemudian hujan.Konyol sekali rasa sepi ini. Bertahun-tahun setia menemani, tanpa bosan dan lelah sedikitpun. Kadang dia pergi, tapi cuma sebentar. Kemudian dia datang kembali, bertahta untuk sekian lama. Konyol sekali sepi ini. Membuat mata menolak untuk tidur. Bahkan kantukpun mengalah, menepi, menjauh, untuk memberikan ruang pada sepi yang konyol ini. Betapa konyol dan egoisnya sepi ini. Dia bersikeras ingin menjadi teman saya, betapapun saya menolaknya.Dan saya bertekuk lutut di hadapannya. Tanpa syarat. Memalukan.#justanothersleeplessnight

Orang yang salah (lagi)

Pernah dipertemukan dengan orang yang salah? Saya pernah. Berkali-kali malah. 

Betapa pun saya kecewa, kesal dan marah, saya berusaha menyadari bahwa setiap orang yang dihadirkan dalam hidup saya, dipertemukan dengan saya, pasti mempunyai peranan sendiri. Ada yang kehadirannya membuat saya bertambah bahagia, membuat saya menjadi dewasa, membuat saya belajar mengontrol emosi, dan ada pula yang membuat saya menyadari betapa beruntungnya saya, karena saya tidak menjadikan kesedihan dan pengalaman buruk saya sebagai zona nyaman, sehingga saya enggan pindah dari zona tersebut. 

Saya pernah dekat dengan seseorang untuk waktu yang sangat singkat, lebih pendek dari umur jagung. Ketika pertama bertemu, ada perasaan nyaman yang membuat hati ini berkata, "Oke, gimana kalau saya coba aja? Sepertinya dia cukup baik dan saya nyaman ada di dekatnya". Dan sang hati pun membuat keputusan, untuk terus mencoba dekat dan menjalani apa yang ada di depan mata saat itu, tanpa banyak bertanya apa yan…

First Note in 2015

A month gone. It's already February in 2015. Too late for a new year's wish I guess. What about new year's goal, or resolution, or whatever people name it? As for me, I will just continue my resolution I made years ago.