Skip to main content

Posts

Showing posts from 2014

Buku Catatan

Buku catatan itu penting, digital maupun tradisional. Sayangnya, saya jarang banget membuat catatan-catatan sepanjang perjalanan hidup saya. Saya punya buku catatan itu, saya isi dengan perasaan, ide, rencana atau mimpi-mimpi saya, atau momen-momen yang saya anggap istimewa dan saya takut akan hilang dalam ingatan saya kalau tidak dituliskan. Tapi tidak tergolong rajin mengisi buku catatan itu, seringnya terlupa, ya karena tidak terbiasa itu.

Kalau sedang iseng, saya suka buka tulisan-tulisan saya itu, kemudian teringatlah saya dengan kejadian-kejadian yang sudah terlupa, atau ide-ide yang sudah tidak pernah saya pikirkan lagi. Buku catatan bisa mengingatkan kita pada banyak hal, pada mimpi yang sepertinya sudah berdebu, teronggok begitu rupa di sudut kamar. Atau pada orang yang dulu pernah kita anggap spesial. Atau pada ide-ide yang menunggu untuk dijalankan dan mimpi-mimpi yang menggeliat minta dihidupkan.

Dua hari lalu, saya ada blind date. Saya pikir akan saya tuliskan dalam buku…

Hilang

Aku hilang arah, melangkah tapi tak bergerak
Aku hilang arah, membaca mata angin pun aku keliru
Aku hilang arah, mata terbuka tapi tak mampu melihat
Aku hilang arah, berkaca tak melihat mukaBetapa hilangnya diri.

Pundak Laki-Laki

Mantan saya dulu sering kali bilang gini, "Mei, laki-laki itu pundaknya harus kuat". Saya tahu persis apa yang dimaksud. Laki-laki tidak hanya bertanggung jawab atas dirinya, tapi juga atas diri perempuan yang dijadikan teman hidupnya, ibu dari anak-anaknya, dan tentu saja atas diri anak-anaknya. Maka, memang betul, pundak laki-laki itu sungguh harus kuat. Apalah jadinya kalau ia tidak memiliki pundak yang kuat? Bagaimana dia akan memikul tanggung jawab yang ada di pundaknya? Saya setuju sekali dengan pemikiran seperti itu.

Buat saya, laki-laki yang punya pundak kuat, yang rajin bekerja untuk menafkahi diri dan keluarganya, memberikan kehidupan yang terbaik buat orang-orang yang dicintai, dengan cara yang baik dan halal tentunya, itulah laki-laki sebenarnya.

Satu hal lagi, buat saya, laki-laki yang mau sibuk kerja dan berpikir itu seksi.

Sometimes

Sometimes I'm loud, sometimes I'm quiet. Sometimes I'm talkative, sometimes I'm reserved. Sometimes I'm overjoyed, sometimes I'm inconsolable. Sometimes I'm full of life, sometimes I'm just so lifeless. 

Sometimes I smile, sometimes I get frowned. Sometimes I laugh, so many times I cry. Sometimes I feel contented, sometimes I feel empty. 

I've been rejected and accepted. I've been up and down. I've been lost, I've been found. I've been hurt, I've been saved. 

People told me that's life.

Filosofi Superman

Mengapa Superman itu superman? Apa lantaran outfitnya itu, celana dalem di luar dan celana luar di dalem, yg membuat dia menjadi manusia super? Saya rasa bukan. Saya berani jamin itu. Saya pernah minta keponakan saya utk pake baju cara Superman, tapi dia tetap ngga punya kekuatan super. Terus, kenapa Superman itu superman? Menurut saya, Superman menjadi superman, karena ia berada di bumi. Di planet tempat dia berasal, saya rasa dia hanyalah salah satu laki-laki yang make celana dalem di luar dan celana luar di dalem, seperti halnya penghuni lain planet itu. Mereka punya kekuatan yg sama, cara pake baju yg sama. Di tempatnya, Superman hanya laki-laki biasa, ngga beda sama yg lain.Kalo kita mau hebat, ingin beda dengan yg lain, ngga ada salahnya coba cara superman. Pake filosofi Superman, beradalah di luar komunitas kita, maka kita akan terlihat beda, standing out from the crowd.(Just a thought.)

Kosong Itu Sungguh Ada

Kosong itu sungguh ada. Ia hadir berderai di antara rinai hujan, bertahta di antara senda gurau dan petikan gitar, di sekeliling lembah di antara gemuruh air terjun. Ia meraja di hijau gunung berselimut kabut putih dan desir angin yang menggigit tulang. 
Kosong itu sungguh ada. Ia menggeliat di atas meja kerja, berkamuflase dalam tumpukan berkas tua berdebu, bertengger pada layar presentasi. 
Sungguh kosong itu ada, dan ia begitu nyata.

Jangan Bohongi Hati

Jujur saja, saya tidak selamanya jujur. Kadang saya bohong, demi alasan-alasan tertentu, misalnya untuk menjaga perasaan orang, untuk menyudahi pembicaraan yang bikin saya bosan, atau untuk menutupi perasaan saya.

Dari segala kebohongan yang pernah saya lakukan, ternyata berbohong kepada hati sendiri yang paling berat. Saya pikir, ketika saya menerima kehadiran orang lain yang tepat berada di depan saya dan saya berpura-pura hadir untuknya, hati saya akan merasa penuh, tidak ada lagi ruang kosong yang menganga. Tapi ternyata saya salah besar, kebohongan tidak akan membuat hati kita terasa utuh. Ruang kosong akan tetap kosong. Dan yang bisa saya lakukan hanyalah mengakui kosong itu sebagai keadaan yang harus saya terima. Paling tidak, untuk saat ini.

Target, Goal, atau Apapun Itu Namanya

Saya bukan orang yang rajin buat resolusi saat pergantian tahun. Belum pernah saya melakukan itu, setidaknya sampai awal tahun ini. Itu pun saya lakukan bukan di awal-awal sekali, mungkin di bulan kedua, baru saya menuliskan target, atau tepatnya mimpi yang ingin saya wujudkan di tahun ini. Ada tiga mimpi yang saya tuangkan di atas kertas, saya cetak dengan tinta warna warni, huruf yang manis, dan gambar sebagai visualisasi mimpi saya. Kata orang, visualisasi bisa membantu kita untuk mewujudkan mimpi. Katanya lagi, alam semesta akan berkonspirasi supaya mimpi itu menjadi kenyataan. Kertas berisi tiga mimpi itu kemudian saya tempel di dinding kamar saya, biar bisa sering terlihat, dan saya bayangkan. Tiga mimpi besar itu, yang pertama, saya harus jadi Konsultan HKI tahun ini. Kemudian, saya menuliskan punya rumah sendiri di mimpi yang kedua. Dan yang ketiga adalah menikah. Belum pertengahan tahun, saya sudah pastikan mimpi saya yang pertama tidak bisa diwujudkan tahun ini. Pelatihan ko…

One Fine Evening

One fine evening at the Northpoint Residence swimming pool.Kenny: Hey! Are you just gonna stand there or join me here?
Me: Isn't it cold?
Kenny: Naah...it's warm, just nice. Come on, jump!
Me: OkayKenny was right, the water was warm. And we spent the whole evening swimming, laughing and talking about many things until the lights off.

Yeay Hujan!

Hujan. Saya suka hujan, saya suka aroma hujan. Saya suka ketika butiran-butiran air itu melepaskan diri dari awan yang jenuh uap air, dan kemudian menghapus debu di udara, jatuh di daun-daun, menimpa kaca jendela dan atap rumah dengan riuh rendah nyanyiannya. Dan nyanyian itu, nyanyian hujan itu, sungguh mampu menenangkan hati saya.

Semasa saya duduk di sekolah dasar, daerah tempat tinggal saya itu masih sangat kampung. Jarak dari rumah ke sekolah yang cukup jauh itu, saya tempuh dengan jalan kaki. Melewati sawah, kebun, sungai dengan aliran air yang cukup besar dan jalan tanah setapak. Waktu itu jarang sekali orang yang punya kendaraan bermotor. Dan ketika hari hujan, saya akan berjalan kaki ke sekolah dengan membawa sebilah daun pisang sebagai payung. Masih sangat jelas dalam ingatan, saya berseragam putih merah, menggendong tas punggung, bertelanjang kaki (sepatu dan kaus kaki saya simpan dalam tas) berpayung daun pisang. Tapi apabila hujan selepas sekolah, saya tidak akan susah p…

Hampir Lupa

Sungguh saya hampir lupa dengan blog ini, dan sungguh saya hampir lupa bagaimana caranya menulis. 
Banyak sekali hal yang dulu saya kerjakan, sekarang tidak lagi, sekarang sudah lupa, atau memilih lupa. Tapi ada banyak hal yang seharusnya saya tolak lupa. Seperti blog ini, seperti menulis ini. Mudah-mudahan saya bisa melawan lupanya.